Tampilkan postingan dengan label ORGANISASI RAHASIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ORGANISASI RAHASIA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Mei 2015

Sejarah Rahasia Freemasonry dan Iluminati (14)

Atas desakan uskup, pengadilan daerah kemudian mengambil keputusan untuk menahan Sauniére. Dengan menahan amarah, Sauniére mengadukan kejadian ini ke Vatikan. Setelah menerima surat pengaduan Sauniére, dengan cepat Vatikan segera membuat surat perintah yang ditujukan pada Uskup Carcassonne yang baru dan juga pengadilan daerah. Perintahnya satu: Bebaskan Sauniére secepatnya dan bebaskan dia dari segala tuduhan serta pulihkan nama baiknya.

Dengan masih dilanda rasa heran, Uskup Carcassonne kemudian segera membebaskan Sauniére dan tidak pernah lagi mengusiknya. Sejak itu Sauniére bisa hidup tenang dan meneruskan gaya hidup para rajanya yang mewah. Entah mengapa, setelah peristiwa itu Sauniére mengundurkan diri sebagai pastur desa. Gereja kemudian mengangkat Pastur Marty sebagai pastur baru di desa tersebut.

Kedatangan pastur baru ini ternyata mendapat sambutan dingin dari warga desa. Misa yang diadakan gerejanya kosong. Warga desa lebih suka mengikuti misa yang diselenggarakan Sauniére di kapel pribadinya yang kecil yang terletak di bawah Vila Bethania. Jelas, tuduhan bahwa kekayan Sauniére berasal dari komersialisasi misa yang berarti melakukan pemerasan terhadap warga desa tidak terbukti.

Bersama warga desa dan Marie Denarnaud, Sauniére terus hidup dalam kemewahan. Selain Sauniére, Marie Denarnaud sering terlihat mengenakan model pakaian paling anyar dan mahal dari Paris. Sebab itulah Marie juga sering disebut sebagai “La Madonne”. Selama hidupnya, dari tahun 1896 hingga 1917, pastur muda tersebut diketahui telah membelanjakan uangnya tidak kurang dari 23 juta franc. Tiap bulan ia sekurangnya mengeluarkan 160.000 franc. Sauniére juga memiliki rekening bank di Paris, Perpgnan, Toulousse, dan Budapest. Belum cukup dengan itu, pastur ini juga berinvestasi dalam jumlah yang besar di bursa, saham perusahaan, dan sekuritas, suatu tindakan yang tidak lazim dilakukan oleh seorang imam Katolik.

Pada hari Rabu, 17 Januari 1917, Sauniére yang telah berusia 65 tahun tiba-tiba terserang penyakit yang mirip dengan stroke. Anehnya, lima hari sebelumnya, para jemaat desa mengatakan bahwa Sauniére tampak sangat sehat dan prima untuk lelaki seusianya.

Dan yang juga aneh, di tanggal 12 Januari itu, pembantu Sauniére, Marie Denarnaud, diketahui telah memesan sebuah peti mati bagi majikannya. Apakah Marie Denarnaud memiliki insting keenam yang mengatakan bahwa majikannya itu akan segera meninggal dunia? Ataukah Marie terlibat dalam suatu persekongkolan jahat yang entah siapa yang melancarkannya untuk menghabisi Sauniére, disebabkan majikannya itu memegang sebuah rahasia yang membuat Vatikan gentar?

Di pihak mana Marie Denarnaud, apakah di pihak majikannya yang dengan sangat baik mau berbagi rahasia tersebut dengannya dan mewariskan semua kekayaannya atau di pihak suatu kelompok atau organisasi rahasia yang bernafsu untuk menghabisinya karena ingin menutup rapat-rapat sebuah rahasia penting yang terlanjur diketemukan Sauniére?

Bukan itu saja, tanggal 17 Januari ini sebenarnya juga bukan tanggal yang biasa. Nisan makam Marquise d’Hautpoul de Blanchefort yang dibuat Sauniére ternyata juga bertanggal 17 Januari. Selain itu, hari perayaan pembangunan Gereja Saint Sulpice yang terkait dengan rahasia Da Vinci juga dilakukan tiap tanggal 17 Januari. Ini terlalu naïf jika dianggap hanya suatu kebetulan.

Setelah terserang stroke yang misterius, kondisi kesehatan Sauniére turun drastis. Ia terus berbaring dan sekarat. Seorang pastur desa tetangga, Imam dari Espéraza, dipanggil untuk mendengarkan pengakuan terakhirnya dan melaksanakan ritual peminyakan terakhir. Imam itu segera datang. Ia sendirian masuk ke kamar di mana Sauniére terbaring lemah. Tak lama kemudian, Espéraza tersebut keluar dari kamar. Badannya gemetaran. Mukanya pucat-pasi. Kedua matanya kosong seakan habis melihat hantu.

Menurut René Descadeillas, “…sejak hari itu, imam tua tersebut tidak lagi menjadi orang yang sama; ia jelas-jelas telah mengalami suatu kejutan. Dan sampai akhir hayatnya ia tidak pernah terlihat tertawa lagi.” Imam itu juga menolak memberikan upacara terakhir menurut tradisi Katolik Roma untuk Sauniére.

Senin, 22 Januari 1917, Sauniére meninggal dunia. Pendeta kaya raya itu tidak meninggalkan apa-apa. Seluruh kekayaannya telah diberikan kepada Marie Denarnaud, sang pembantunya. Sauniére juga telah memberitahukan rahasia besar itu padanya. Di saat meninggal, Sauniére sesungguhnya tengah mengerjakan beberapa proyek besar yang menghabiskan biaya tak kurang dari delapan juta franc. Proyek-proyek itu antara lain dipakai untuk membangun jaringan jalan yang bagus ke desanya untuk mobil yang akan dibelinya, menyediakan saluran air ke semua rumah di desa, membangun kolam pembaptisan, dan juga mendirikan sebuah menara yang tingginya mencapai 70 meter yang rencananya dibuat untuk menyeru jemaatnya untuk berdoa.

Sepeninggal Sauniére, Marie Denarnaud tinggal di vila Bethania hingga akhir Perang Dunia di tahun 1946. Usai Perang Dunia II, Marie menjual vila tersebut kepada Monsieur Noel Corbu. Kepada Corbu, Marie diam-diam menjanjikan akan membuka rahasia besar itu sebelum dirinya meninggal. Rahasia itu, demikian Marie, siapa pun yang memegangnya akan bisa membuatnya kaya-raya dan berkuasa.

Entah mengapa, pada hari Kamis, 29 Januari 1953, seperti majikannya dulu, tiba-tiba Marie terserang penyakit stroke yang membuatnya tidak bisa bicara. Marie pun sekarat dan kemudian meninggal tanpa sempat mewarisi sebuah rahasia yang dipegangnya sampai ke liang lahat. Corbu[1] pun gagal mengetahui apa rahasia yang akan diberikan oleh Marie.

Banyak kalangan percaya, rahasia yang ikut terkubur bersama jasad Sauniére dan Marie lebih dari sekadar harta karun berupa emas, perak, atau pun batu permata. Jika demikian, apakah ini tentang suatu pengetahuan yang selama ini dikubur dalam-dalam? Oleh siapa? Mengapa Vatikan sepertinya sangat takut dan tidak berani terhadap Sauniére? apakah pengetahuan itu bisa menjadi uang? Bahkan peneliti bernama Richard Andrews dan Paul Schellenberger dalam karya mereka The Tomb of God (1996) mengeluarkan spekulasi bahwa harta karun yang dimaksud sesungguhnya adalah makam Yesus Kristus.

Pertanyaan-pertanyaan ini mengemuka dan akhirnya mengerucut menjadi satu dugaan bahwa sesungguhnya rahasia itu memang lebih dari sekadar harta-benda, namun juga meliputi suatu pengetahuan rahasia yang selama ini ditutup rapat oleh Vatikan. Sebab itu, Vatikan terkesan sangat permisif dan segan pada Sauniére. Dan tidak cukup dengan itu, bisa jadi Vatikan malah secara kontinyu mengucurkan uang kepada Sauniére, sekadar sebagai tutup mulut. Dan yang terakhir mungkin saja menghabisinya.

“Kami yakin bahwa ia telah menerima uang dari Johann von Habsburg. Pada saat bersamaan, ‘rahasia’ pendeta itu, apa pun itu, tampak lebih bersifat religius daripada politik,” demikian The Holy Blood and the Holy Grail.

Dugaan Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln, ternyata dibenarkan oleh seorang mantan pendeta Gereja Anglikan Inggris. Usai penayangan film “The Lost Treasure of Jerusalem” pada Februari 1972 garapan mereka bertiga, mantan pendeta itu mengirim surat yang antara lain berbunyi, “’Harta karun’ itu tidak terkait dengan emas atau batu-batu mulia yang berharga. Sebaliknya, harta tersebut berupa ‘bukti yang tidak dapat dibantah’ bahwa Penyaliban adalah peristiwa tipuan dan bahwa Yesus masih hidup hingga akhir tahun 45 Masehi.”Keyakinan bahwa Yesus tidak mati di tiang salib sebenarnya juga banyak dianut oleh sekte-sekte kekristenan awal yang lazim disebut sebagai kelompok Unitarian. Mereka ini menganggap Yesus hanyalah utusan Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri.

Jika Yesus memang tidak mati di tiang salib, mungkinkah Yesus telah diselamatkan oleh Yusuf Arimathea, seorang murid rahasianya yang kaya dan berpengaruh, seperti yang selama ini diyakini sebagian umat Kristen awal seperti Sekte Essenes dan gulungan Nag Hammadi? Al-Qur’an juga menyatakan bahwa Yesus tidaklah mati di tiang salib. Yang mati ditiang salib adalah orang yang ditampakkan Allah SWT menyerupai Yesus.

Sebuah buku kecil yang secara misterius tidak ada nama pengarangnya berjudul “The Crucifixion by an Eye Witnessyang terbit di Chicago tahun 1907 menjadi salah satu pegangan para peneliti yang meyakini Yesus tidaklah mati di tiang salib. Buku kecil yang berasal dari sebuah surat panjang—naskah kuno—yang ditulis oleh seorang saksi mata, namanya tidak pernah diketahui, yang diduga kuat berasal dari Suku Esenes yang terkenal karena kejujuran dan kezuhudannya di Yerusalem kepada saudara seimannya di Alexandria. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

[1] Manurut Picknett dan Prince, Noel Corbu sesungguhnya merupakan orang suruhan dari Gereja untuk menguasai tanah milik Marie. Gereja memang tidak pernah secara terus terang menyatakan niatnya yang menggebu untuk memiliki tanah itu. Melalui perantaraan seorang imam bernama Abbé Gau, Gereja berhasil membujuk Corbu untuk bertindak atas namanya, dengan kesepakatan jika Marie menyerahkan tanahnya maka Corbu akan menyerahkannya kepada Gereja. Namun Corbu rupanya mengingkari kesepakatan itu. Namun yang sungguh aneh, setelah itu Corbu malah mdatang ke Vatikan untuk meminta bantuan dana. Saat itu permintaan Corbu tidak ditanggapi karena Vatikan sendiri sebelumnya telah mengutus seorang duta ke Keuskupan Carcassonne untuk menyelidiki hal tersebut. Duta Vatikan itu ternyata bernama Kardinal Angelo Roncalli—yang kelak menjadi Paus Yohannes XXIII atau Paus John XXIII yang menurut The Holy Blodd and The Holy Grail diyakini merupakan anggota Biarawan Sion karena Paus John XXIII memiliki dua gelar:Pasteur et Nautonnier.  Nautonnier merupakan gelar bagi Grand Master Biarawan Sion. Hal tersebut akan dibahas dalam bagian lain buku ini.

[2] Edisi Indonesia berjudul “Kisah Penyaliban oleh Seorang Saksi Mata” diterbitkan oleh Yayasan Radja Pena Jakarta, Agustus 1994, dan kini seolah lenyap dari pasar.

|sumber: eramuslim.com
Redaksi – Jumat, 2 Januari 2015 07:08 WIB

Sejarah Rahasia Freemasonry dan Iluminati (13)

Sejak awal, Sauniére curiga, naskah yang berisi tulisan yang kacau itu sebenarnya merupakan sebuah sandi atau kode, yang harus dipecahkan dengan mempergunakan kunci atau teknik tertentu, sebelum arti sesungguhnya diketahui. Jelas, batin Sauniére, ada sesuatu yang sangat berharga di balik kode-kode yang begitu rumit ini.

Setelah meneliti naskah tersebut, pastur muda itu berhasil merangkaikan kalimat demi kalimat dalam naskah perkamen yang pertama. Kalimat itu awalnya adalah:

BERGERE PAS DE TENTATION QUE POUSSIN TENIERS GARDENT

LA CLEF PAX DCLXXXI PAR LA CROIX ET

CE CHEVAL DE DIEU J’ACHEVE CE DAEMON DE GARDIEN

A MIDI POMMES BLEUES

 

Kalimat yang tidak beraturan itu oleh Sauniére berhasil diurutkan menjadi kalimat di bawah ini, namun ini pun ternyata masih membuatnya bingung:

 

(GEMBALA-GEMBALA, TIDAK TERGODA, KARENA

POUSSIN, TENNIERS, MEMEGANG KUNCI;

PERDAMAIAN 681. DENGAN SALIB DAN KUDA TUHAN,

AKU SEMPURNAKAN—ATAU HANCURKAN—IBLIS

PENJAGA PADA SIANG HARI-APEL BIRU)

 

Di perkamen lainnya, juga terdapat kalimat bersandi yang berbunyi:

 

E DAGOBERT II ROI ET A SION EST CE TERSOR ET IL

EST LA MORT

(HARTA KARUN INI MILIK DAGOBERT II, RAJA, DAN MILIK SION DAN DIA MATI DI SANA)

 

Walau telah berhasil ‘membaca’ sandi-sandi tersebut, Sauniére tetap tidak mampu memahami apa yang sesungguhnya dimaksud oleh naskah-naskah itu. Apakah ini terkait dengan misteri harta karun? Apakah tentang organisasi rahasia? Atau tentang yang lainnya yang bersifat rahasia? Tidak mampu memecahkan persoalan yang begitu rumit, akhirnya pastur itu mengunjungi beberapa kenalannya, salah satunya Uskup Carcassonne, Felix-Arsène Billard, untuk dimintai pendapatnya. Oleh Billard, Sauniére dinasehati agar menemui seorang ahli pemecah kode bernama Émile Hoffet, yang ketika itu merupakan seorang pemuda yang tengah belajar untuk menjadi imam, namun memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai okultisme dan dunia kelompok-kelompok rahasia.

Sekembalinya dari perjalanan mengunjungi beberapa kenalannya, kehidupan Sauniére yang semula pas-pasan berubah total. Dalam waktu yang tidak lama pendeta itu diketahui sering bertindak aneh dan tidak ada manfaatnya. Terkadang menyusuri jalanan desa bersama pembantunya, terkadang mengurung diri di rumahnya, atau berjalan kesana-kemari tiada arah tujuan. Selain merenovasi gereja, dia juga mampu membangun menara Magdala (Magdalena) yang mewah dan bahkan sebuah bangunan vila yang dinamakannya Vila Bethania lengkap dengan taman yang indah serta rumah kaca.

Entah terinspirasi oleh apa, gereja yang direnovasinya ternyata diubah dengan gaya bangunan dan arsitektur yang amat tidak lazim dan bahkan kelihatannya mengerikan. Sebuah patung menyeramkan, Raja Iblis Asmodeus—sang penjaga rahasia, penjaga harta karun Kuil Sulaiman yang tersembunyi dalam kepercayaan pagan Yahudi—didirikan di jalan masuk ke dalam gereja. Di bagian pintu masuk gereja ditulis sebuah kalimat:

TERRIBILIS EST LOCUS ISTE

(TEMPAT INI MENGERIKAN)

 Adakah penempatan patung Asmodeus ini oleh Sauniére dimaksudkan bahwa di dalam gereja tersebut terdapat sesuatu rahasia yang sungguh-sungguh penting dan berharga? Selain itu, Sauniére juga sering mengadakan perjamuan mewah kepada penduduk desa. Seluruh warga desa tersebut, besar kecil, seluruhnya sering dijamu oleh sang pendeta dalam acara jamuan yang mewah. Bahkan sejumlah tamu penting dari berbagai desa dan negeri juga sering berdatangan mengunjungi pendeta itu. Sauniére telah hidup dalam gaya para raja.

Pernah dalam beberapa malam, penduduk memergoki pastur muda itu bersama pelayannya tengah membongkar makam Marquise d’Hautpoul de Blanchefort. Dan ketika ditanya, maka jawaban yang diperoleh pun terkesan menutupi sesuatu.

Anehnya, terhadap perubahan yang sangat menyolok tersebut, walau Gereja dipastikan mengetahuinya—antara lain lewat laporan Uskup Carcassonne, atasan langsung Sauniére—namun Vatikan tidak mau ambil pusing dan sama sekali tidak ingin turut-campur. Entah mengapa Gereja seolah menutup mata bahkan terkesan enggan untuk sekadar bertanya tentang penyebab perubahan itu. Takutkah Gereja pada Sauniére? Gerangan apa yang diketemukan Sauniére di dalam rongga salah satu pilar Gereja Magdalena? Apa yang sebenarnya dikatakan oleh perkamen-perkamen tersebut, sehingga mengubah seratus delapan puluh derajat seorang pendeta muda bernama Sauniére?

Yang jelas, sesuatu itu telah menjadikannya kaya raya dan berkuasa. Pertanyaan-pertanyaan ini terus terkunci dan menjadi salah satu rahasia sejarah Gereja Vatikan yang paling gelap hingga kini.

Ketika Sauniére terus hidup dalam segala kekayaan dan pengaruhnya, tiba-tiba Uskup Carcassonne meninggal dunia. Dengan cepat Gereja kemudian mengangkat seorang uskup yang baru untuk menggantikan yang lama. Tidak berapa lama menjabat, uskup baru ini merasa ada sesuatu yang janggal dengan kehidupan Sauniére. Dari mana pendeta bawahannya itu bisa bergaya hidup mewah dan mendapatkan harta kekayaan serta uang yang berlimpah, padahal wilayah gembalaannya hanya di sebuah kampung kecil bernama Rennes-le-Château yang terletak di atas perbukitan yang sepi? Uskup baru itu rupanya tidak mendapat pengarahan terlebih dahulu dari Gereja, sehingga ia dengan sangat biasa dan tanpa perasaan apa pun menulis surat kepada Sauniére agar bisa secepatnya menghadap dirinya untuk menjelaskan segala asal-muasal harta kekayaan yang diperolehnya.

Tindakan Uskup Carcassonne yang baru itu amat menyinggung perasaan Sauniére. Dengan berani, Sauniére menolak untuk datang dan secara tegas menentangnya. Uskup Carcassonne sungguh terkejut dengan keberanian bawahannya itu. Sesuatu yang sama sekali di luar perkiraannya. Sang uskup pun tidak mau kehilangan kewibawaannya. Ia dengan kasar menuduh Sauniére telah melakukan jual-beli hal-hal yang bersifat rohani, mengkomersialkan misa, sesuatu yang dilarang oleh Gereja. Uskup pun mengadukannya ke pengadilan daerah untuk mengusut bawahannya itu. 

|sumber: eramuslim.com
Redaksi – Kamis, 11 Rabiul Awwal 1436 H / 1 Januari 2015 16:45 WIB

Senin, 27 April 2015

Sejarah Rahasia Freemasonry dan Iluminati (12)

Seperti film Origins The Da Vinci Code[1]yang secara detil memuat proses kelahiran buku The Holy Blood and the Holy Grail, kita juga akan menengok terlebih dahulu sebuah desa di sebelah timur kaki gunung Pyrenees, di selatan Perancis, bernama Rennes-le-Château. Sebuah desa yang asri dan penuh aroma mistis, yang kemudian menjadi begitu terkenal setelah The Holy Blood and the Holy Grail terbit. Sampai sekarang, tak kurang dari 500 judul buku tentangRennes-le-Château yang telah terbit. Angka ini terus bertambah.

MISTERI DI SELATAN PERANCIS

Tidaklah terlalu sulit jika Anda ingin ke Desa Rennes-le-Château. Dari Paris, tataplah matahari yang bersinar pada siang hari bolong, lalu berjalanlah lurus ke selatan, mengikuti garis bujur, melewati Burgundy, Saint Philibert de Tournus, Sungai Rheine, Vienne dan katedralnya di mana pada tahun 1312 di tempat itu berawal gerakan penumpasan terhadap Ksatria Templar, lewat Carcassonne, terus berjalan ke selatan hingga Limoux dan Lembah aude, melewati Kastil Kathari yang terkenal dalam peristiwa Perang Salib Albigensian, menyusuri jalan yang diapit pegunungan Pyrennes, dan tibalah di sebuah dataran tinggi, Rennes Le Château.

Perjalanan dari Paris ke desa ini bagaikan sebuah perjalanan sejarah, napak tilas, dari sejarah Eropa di abad pertengahan. Semua kisah dan misteri berawal dari desa ini, namun entah mengapa, Dan Brown sama sekali tidak menyinggung nama desa ini secuil pun dalam novel The Da Vinci Code.

Di Rennes-le-Château yang masuk dalam wilayah Languedoc, sudah sejak lama berdiri sebuah gereja kecil dan sederhana yang dipersembahkan kepada Maria Magdalena. Konon, gereja ini sudah ada sejak zaman Visigoth pada abad ke-6 Masehi. Beberapa mil di tenggara Rennes-le-Château, berdiri sebuah puncak gunung yang oleh masyarakat sekitar dikenal sebagai Bézu. Di puncak gunung tersebut, berserakan puing-puing benteng abad pertengahan.

Menurut sejarah, lokasi tersebut pernah dijadikan salah satu kuil Ksatria Templar yang menyelamatkan diri dari kejaran pasukannya Phillipe le Bel dan Paus Clement V. Dan konon, tiap tahun pada tanggal-tanggal menjelang 13 Oktober, hantu-hantu para Templar berkeliaran di sekitar perbentengan tersebut. Puncak Bézu memang menyeramkan dilihat dari kejauhan, bagai panic raksasa  terbalik di tengah bukit. Ini cerita warga sekitar yang menyebar dari mulut ke mulut. Kebenarannya tidak ada yang tahu.

Satu mil ke timur laut Rennes-le-Château, pada puncak lainnya, berdiri sisa-sisa puri Blanchefort, sebuah rumah leluhur Bertrand de Blanchefort, seorang Grand Master ke-4 Ksatria Templar. Sejak berabad-abad silam, daerah itu sudah menjadi rute perjalanan para peziarah yang terbentang dari Eropa Timur hingga Santiago de Compastela di Spanyol. Sebuah wilayah yang dipenuhi aroma mistis, legenda, mitos, dan juga bau darah.

Para peziarah Eropa Utara dan Timur sejak dulu selalu melalui wilayah ini sebelum mereka berlayar menuju Jaffa, kota pelabuhan di tanah Palestina, setelah melintasi Laut Tengah melewati perairan utara Tunisia, Pulau Sardinia dan Sisilia di selatan Itali, dan Malta, menuju Kota Suci Yerusalem.

Kisah tentang desa kecil namun aneh ini selalu berawal dari kedatangan Pastur Francois Bérenger Sauniére[2] (1852-1917), seorang Pastur muda berusia 33 tahun[3] yang berasal dari Desa Montazels, sekitar tiga kilometer dari Rennes le Château. Bérenger Sauniére menjejakkan kakinya pertama kali di desa ini pada hari Senin, 1 Juni 1889.Holy Blood, Holy Grail tidak menjelaskan secara detil latar belakang kehidupan Pastur Bérenger Sauniére. Namun sebuah film dokumenter yang diproduksi oleh Katana Production (Perancis, 2002) berjudul Rennes-Le-Château du trésor au vertige (Keajaiban Harta Karun Rennes le Chateau)[4] menyibak lebih dalam awal kehidupan Pastur muda tersebut.

Pada tahun 1850, di Desa Montazels yang berada di depan Desa Rennes le Château, di satu persimpangan tinggallah keluarga Sauniére. Sang ayah bekerja sebagai pengurus Marques de Castel majou, sebuah kastil besar di ujung desa. Sedang ibunya berasal dari keluarga terpandang. Oleh kedua orangtuanya, dua bersaudara Afred dan Berenger, yang pintar dan ambisius, disekolahkan ke Seminari Carcassonne agar kelak menjadi pastur dan meneruskan tradisi kehormatan bagi keluarganya.

Setelah lulus, Berenger ditunjuk menjadi pastur di Desa Le Clat, yang berada agak jauh dari Montazels, namun masih berada di sekitar Rennes le Château. Tanah Desa Le Clat dimiliki oleh keluarga Hautpoul-Fellines. Setelah tiga tahun mengabdi di Le Clat, Berenger dipindahkan oleh atasannya, Uskup Carcassonne, ke Rennes le Château.

Di awal Juni 1885, Pastur Bérenger Sauniére datang Rennes le Château. Di daerah penggembalaan barunya ini, Sauniére awalnya tinggal di rumah milik keluarga Denarnaud. Sang puteri, Marie Denarnaud bekerja menjadi pelayan dari Sang Pastur. Kehidupan pastur itu terbilang cukup sederhana. Pendapatannya hanya enam poundsterling tiap tahun ditambah dengan kolekte sukarela dari jemaat gerejanya. Pastur Berenger Sauniére bersahabat dengan Pastur Henri Boudet dari desa tetangga, Rennes-le-Bains.

Beberapa bulan tinggal di desa itu, Sauniére mendapat masalah besar ketika dalam salah satu misa yang dipimpinnya, Pastur muda itu mengkhotbahkan suatu ajaran yang sangat anti-Republikan, padahal pada waktu itu pemilihan umum tengah berlangsung. Untuk sementara waktu Sauniére dibebastugaskan dari jabatannya. Ketika akhirnya dia dikembalikan kepada posisinya pada musim panas 1886, dia menerima hadiah sebesar 3.000 franc dari Countess de Chambord, janda seseorang yang mengklaim sebagai raja Perancis, King Henry de Bourbon yang mengaku bergelar Henry V, yang merasa berhutang budi karena Sauniére membela kaum monarkis. Pastur itu kemudian menggunakan uang tersebut untuk merenovasi gereja kecilnya yang sudah rusak di sana-sini.

Pada saat inilah pastur itu menemukan sejumlah perkamen yang memuat kode rahasia. Ini menurut Picknet dan Prince. Namun menurut Baigent, Leigh, dan Lincoln, dana untuk merenovasi gerejanya diperoleh Sauniére dengan meminjam dari kas desa.

Ketika membetulkan bagian atas sebuah pilar dekat mimbar, ia menemukan sebuah laci rahasia yang menyimpan sebuah dokumen. Dokumen itu menuntunnya untuk mencongkel sebuah batu setapak yang terletak di tengah gereja. Di bawah batu terdapat sebuah pot yang tertanam dan berat. Ketika dibuka, pot itu penuh berisi koin emas. Kepada para pekerja yang melihatnya,  Sauniére mengatakan bahwa itu merupakan medali dari Lourdes. Tapi banyak orang tidak percaya. Konon, koin emas itu sangat cukup untuk membangun desa tersebut menjadi desa yang makmur.

Setelah penemuan itu, Sauniére kembali menemukan empat lembar perkamen dari sebuah pilar bergaya Visigoth di dekat altar yang rencananya hendak dipindahkan. Pilar itu ternyata berongga. Empat lembar perkamen itu tersimpan di dalam sebuah tabung dari kayu. Perkamen-perkamen tersebut amat sulit dibaca karena susunan huruf-hurufnya tidak beraturan dan sekilas tidak ada arti. Tapi pendeta muda tersebut seorang yang cukup kritis. Ia meyakini, apa pun itu, temuannya itu pasti barang yang sangat berharga, sehingga membuat orang-orang menyimpannya rapat di sebuah tempat yang dirahasiakan. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

[1] ‘Origins The Da Vinci Code’ (Kelahiran The Da Vinci Code) merupakan sebuah film dokumenter yang mengisahkan perjalanan liburan seorang Henry Lincoln di sebuah desa terpencil di kaki gunung Pyrennes, Selatan Perancis, bernamaRennes-le-Château. Desa itu sejak berabad lalu memang dikenal karena kemisteriusan, legenda-legenda, dan aroma mistisnya. Suatu hari, saat berkunjung ke sebuah kedai buku kecil di desa itu, Lincoln tertarik pada sebuah buku sederhana berjudul ‘Le Tressor Maudit’. Buku kecil itu memuat teka-teki pencarian harta karun lengkap dengan legenda dan misterinya. Lincoln merasa ada sesuatu yang harus ditelusurinya. Upaya kecil ini kemudian menjadi besar dan serius hingga melahirkan sebuah buku tebal hasil penyusuran intelektual Henry Lincoln—yang dibantu oleh Michael Baigent dan Richard Leigh—berjudul “Holy Blod, Holy Grail” yang sangat controversial, terutama terhjadap keyakinan Gereja Katolik Roma (1982). Buku inilah yang kemudian dijadikan pegangan utama Dan Brown, untuk menulis novel ‘The Da Vinci Code’.

[2] Nama belakang pendeta ini oleh Dan Brown dipakai menjadi Jacques Sauniére, pelakon Grand Master Biarawan Sion sekaligus kakek dari Sophie Neveu—gadis salah satu keturunan Yesus—dan sahabat Robert Langdon, profesor simbologi Universitas Harvard, yang di awal novel The Da Vinci Code ditemukan oleh Robert Langdon mati terbunuh dengan posisi jasadnya membentuk The Vitruvian Man, salah satu karya Leonardo Da Vinci.

[3] Holy Blood, Holy Grail mencatat usia 30 tahun.

[4] Di Indonesia beredar dengan judul “The Sauniere’s Da Vinci, Where It All Began” (Awal Terungkapnya “Da Vinci Code”) dan didistribusikan pada bulan April 2006 oleh Emperor Edutainment.

|sumber: eramuslim.com
Redaksi – Kamis, 11 Rabiul Awwal 1436 H / 1 Januari 2015 07:00 WIB

Sejarah Rahasia Freemasonry dan Iluminati (11)

Biarawan Sion awalnya—sebelum peristiwa Penebangan Pohon Elm di tahun 1187—bernama Ordo Sion yang dipercaya menempati sebuah Gereja di atas Gunung Bukit Sion di selatan kota Yerusalem. Seperti juga organisasi maupun ordo lainnya, maka ordo ini pun memiliki Sang Guru dari waktu ke waktu. Dalam periodesasi yang ketat maupun tidak.

Setelah Ordo Sion berubah menjadi Biarawan Sion, maka pejabat Grand Master organisasi ini menurut Dossiers Secrets adalah:

 

Jean de Gisors                           1188 – 1220
Marie de Saint-Clair                1220 – 1266
Guillaume de Gisors                1266 – 1307
Edouard de Bar                        1307 – 1336
Jeanne de Bar                           1336 – 1351
Jean de Saint-Clair                 1351 – 1366
Blanche d’Evreux                    1366 – 1398René de Anjou                         1418 – 1480
Ioland de Bar                           1480 – 1483
Sandro Filipepi                       1483 – 1510
Léonardo Da Vinci                 1510 – 1519
Connétable de Bourbon        1519 – 1527
Ferdinand de Gonzague       1527 – 1575
Louis de Nevers                      1575 – 1595
Robert Fludd                          1595 – 1637
Johann Valentin Andrea      1637 – 1654
Robert Boyle                           1654 – 1691
Charles Radclyffe                   1727 – 1746
Charles de Lorraine               1746 – 1780
Maximilian de Lorraine       1780 – 1801
Charles Nodier                       1801 – 1844
Claude Debussy                     1885 – 1918
Francois Ducaud-Bourget   1963 – 1981
Pierre Plantard                      1981 – 1984

Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln, trio penulis Holy Blood, Holy Grailberani memastikan bahwa apa yang terdapat dalam The Dossiers Secrets di atas adalah benar. “Kami telah menyimpulkan bahwa daftar Grand Master dalam Dossiers Secrets itu sangat akurat,” demikian ujar mereka. Namun selain itu, ada pula daftar para Grand Master Biarawan Sion versi Vaincare No.3, September 1989 (hal.22) yang dieditori oleh Thomas Plantard de Saint-Clair, orang yang diduga sama dengan Pierre Plantard.

Grand Master atau Maha Guru Biarawan Sion biasanya disebut sebagai “Nautonnier” yang memiliki makna “Navigator” atau Nakhoda. Amat mungkin, penggunaan istilah ini merujuk pada fungsi Maha Guru Biarawan Sion yang memiliki kewenangan terhadap arah kebijakan ordo ini dalam menghadapi tantangan dan mengemban misi rahasia yang sudah berumur sangat tua. Dalam memilih Grand Masternya, Biarawan Sion bisa dianggap lebih maju ketimbang Gereja Katolik karena mereka membolehkan perempuan menempati posisi tertinggi di dalam ordo ini. Empat Maha Gurunya adalah perempuan. Bahkan dewasa ini di salah satu cabang di Perancis, ordo ini dipimpin oleh Grand Master perempuan.[1] Jika Grand Master Biarawan Sion yang laki-laki sering memiliki nama John, Jean, atau Yohanes (semuanya sama dengan istilah ‘John’), maka yang perempuan biasanya sering memiliki nama Jeanne, Joanna, atau Joan. Leonardo Da Vinci sendiri yang oleh para peneliti disepakati merupakan salah satu Grand Master Biarawan Sion dalam kurun waktu hidupnya, memiliki nama gelar Jean IX.

Menurut struktur organisasinya, di bawah Grand Master Biarawan Sion atau Sang Nautonnier terdapat satu tingkatan yang diduduki tiga orang yang disebut “Pangeran Noachite de Notre Dame”. Di bawahnya lagi ada tingkatan yang tersusun atas sembilan orang yang disebut “Croisé de Saint Jean” (Dalam versi anggaran dasar terbaru diistilahkan dengan nama “Constable”). Di bawahnya masih ada enam tingkatan lagi dengan struktur yang berubah dan tidak bisa ditentukan kepastiannya. Tiga lapisan puncak diisi oleh  tigabelas anggota paling berpengaruh. Mereka menjadi semacam dewan pengatur yang disebut sebagai Arch Kyria. Sebutan ini sebenarnya mengacu pada penghormatan atas feminitas, sepadan dengan istilah ‘Lady’ dalam bahasa Inggris. Di awal abad pertama masehi, di Yunani istilah ini merujuk pada Dewi Isis.

Grand Master pertamanya bernama Jean de Gisors. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa sebagai Grand Master pertama ia memiliki gelar ‘Jean II’? Siapakah yang menjadi ‘Jean I”nya? Menurut para peneliti, di antaranya tiga serangkai penulis The Holy Blood and the Holy Grail—Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln—juga Lynn Picknett dan Clive Prince yang menulis buku “The Templar Revelation”, gelar ‘Jean I’ merupakan gelar yang ditujukan bagi Yohannes Sang Pembaptis yang memiliki kedudukan sangat istimewa bagi ordo tersebut.

Bahkan dalam buku Rennes-Le-Château: capitale secrete de l’histoire de Francekarya Jean-Pierre Deloux dan Jacques Brétigny yang terbit tahun 1982, bersamaan tahun dengan The Holy Blood and the Holy Grail, dengan tegas menyatakan bahwa salah satu pemimpin Perang Salib pertama bernama Godfroi de Bouillon merupakan pemimpin suatu ‘pemerintahan rahasia’ yang memiliki misi khusus dalam mengobarkan Perang Salib.

Di Palestina, Godfroi sempat mengadakan pertemuan dengan sebuah kelompok misterius bernama Gereja Yohanes dan kemudian membangun sebuah rencana besar bagi ordo dan gereja tersebut yang didasarkan atas kekuasaan roh. Guna memuluskan pencapaian rencana besar itu maka dibentuklah sebuah ordo militer khusus bernama Knight Templar. Deloux dan kawannya itu mengutip pernyataan Pierre Plantard yang mengatakan,

“Pada awal abad ke-12 Masehi, tersatukanlah berbagai sarana, spiritual maupun temporal, yang memungkinkan terwujudnya impian Godfroi de Bouillon yang amat mulia; Ordo Templar akan menjadi penjaga Gereja Yohanes dan pengusung panji-panji dinasti yang agung, bala tentara yang penuh pada semangat Sion.”[2]

Jadi, tidak seperti perkiraan banyak orang, bahwa Biarawan Sion maupun Ksatria Templar—dan nantinya juga para penerusnya seperti Freemason, Rosicrusian, dan sebagainya—sama sekali bukan pengawal sejati Yesus, melainkan ‘mengaku’ sebagai pengawal Yohanes Sang Pembaptis. Pengakuan ini pun patut dicurigai, karena mereka sesungguhnya punya motif-motif satanismenya sendiri yang berakar pada masa purba, jauh sebelum Yohanes Sang Pembatis dilahirkan. Bisa jadi, pengakuan bahwa mereka pengawal Yohanes Sang Pembaptis hanya merupakan upaya cari selamat, atau bahkan upaya pengaburan, yang membuat kehadiran mereka disamakan dengan orang-orang Kristen pada umumnya. Padahal mereka sama sekali bukan Kristen.(Bersambung/Rizki Ridyasmara)

[1] Michael Baigent cs; The Messianic Legacy; hal.345.

[2] Deloux dan Brétigny, Rennes-Le-Château: capitale secrete de l’histoire de France; hal. 45. Dalam “The Templar Revelation” hal. 83-84.

|sumber:eramuslim.com
Redaksi – Rabu, 10 Rabiul Awwal 1436 H / 31 Desember 2014 06:30 WIB


Sejarah Rahasia Freemasonry dan Iluminati (10)

Di depan telah disinggung tentang Dossiers Secrets yang didapat Henry Lincoln dan kawan-kawan, menurutnya, secara resmi Ordo Sion didirikan oleh Godfroi de Bouillon pada tahun 1090, sembilan tahun sebelum dirinya memimpin penaklukan Yerusalem dari tangan kaum Muslimin yang berakhir dengan tragedi berdarah di kota suci tersebut.

Dokumen lainnya, Dokumen Biara, menyatakan Ordo Sion didirikan tahun 1099, bertepatan dengan jatuhnya Yerusalem ke tangan pasukan salib pimpinan Godfroi de Bouillon. Kedudukan resmi ordo (markas induk) ada di sebuah gereja khusus bernamaAbbey of Notre Dame du Mont de Sion(Gereja Biara Notre Dame  di Gunung Sion) di Yerusalem, atau juga di luar Yerusalem, sebuah bukit tinggi yang terkenal di selatan kota.

Biara Sion, Pendiri Ordo Knights Templar

Di selatan kota Yerusalem berdiri ‘bukit tinggi’ bernama Gunung Sion. Pada tahun 1099, saat pasukan salib membantai seluruh penduduk Yerusalem—baik kaum Muslimin dan Yahudi—mereka menemukan sebuah reruntuhan di bukit tersebut yang diindikasikan reruntuhan sebuah basilika atau gereja Byzantium kuno yang diperkirakan sudah berdiri pada abad ke empat dan sebab itu disebut sebagai Induk Seluruh Gereja (The Mother of All Church).

Di atas reruntuhan itu Godfroi de Bouillon memerintahkan dibangun kembali sebuah gereja yang ternyata dipergunakan oleh golongannya sendiri. Gereja itu juga lebih mirip dengan menara dan benteng, yang kemudian diberi nama Abbey of Notre Dame du Mont de Sion (Gereja Biara Notre Dame di Gunung Sion). Dari sinilah berasal penamaan Ordo Sion bagi anggota ordo yang menempatinya.

Para peneliti meyakini ordo ini sangat berkuasa hingga berperan besar dalam pengangkatan seorang raja di Yerusalem. Dari Gerard de Sede kita mengetahui bahwa ordo inilah—walau belum bernama Ordo Sion, atau mungkin saja masih bernama “Ordo Kabbalah”—yang telah mendorong Paus Urban II untuk mengakhiri masa damai antara Dunia Kristen dengan Dunia Islam dan kemudian mencetuskan Perang Salib.

Ketika ordo ini berhasil mengangkat Baldwin I, adik kandung dari Godfroi de Bouillon, sebagai Raja Yerusalem pertama setelah berhasil menaklukkan kota suci tersebut dari tangan umat Islam, dua puluh tahun kemudian tiba-tiba Sang Raja Yerusalem kedatangan sembilan orang ksatria Salib yang tanpa ditanya mengatakan bahwa kedatangan mereka ke Yerusalem adalah untuk mengamankan jalur peziarah orang-orang Kristen yang hendak menuju Yerusalem dari Jaffa, kota pelabuhan di sebelah Barat daya Yerusalem.

The Holy Blood and the Holy Grailmencatat bahwa catatan sejarah pertama tentang kelompok yang sarat diselimuti kabut misteri ini ditulis oleh seorang sejarawan bangsa Jerman bernama Guillaume de Tyre yang menulis antara tahun 1175 dan 1185. Menurut de Tyre, Order of the Poor Knights of Christ and of the Temple of Solomon (Ordo Ksatria Miskin Pembela Kristus dan Kuil Sulaiman) atau dalam bahasa latin disebut sebagai paupers commilitones Christi Templique Solomonici didirikan pada tahun 1118. Hughes de Payen, bangsawan dari Champagne dan pengikut seorang Countdari Champagne beserta Godfrey de St. Omer disebut-sebut sebagai pendirinya.

Entah karena kekuatan apa, Raja Yerusalem begitu yakin dan tunduk ketika kesembilan ksatria berbicara, sehingga kesembilan ksatria itu diberi ‘markas’ yang berada di sayap istana sebelah kiri. Kamar-kamar para Ksatria Templar yang diberikan oleh King Baldwin ternyata didirikan di atas Kuil Sulaiman, yang pernah dihancurkan di zaman Nebukadnezar dari Babylonia dan kemudian dibangun kembali di masa Kekaisaran Herod. Di sini timbul pertanyaan, apakah memang King Baldwin yang memberikan wilayah itu kepada mereka tanpa sengaja atau sekadar kebetulan, atau para Ksatria Kuil itu yang meminta wilayah tersebut dengan berbagai dalih. Dari ‘markas’ mereka yang dibangun di atas Kuil Sulaiman itulah nama The Knights Templar muncul. Dari kamar-kamar itulah secara diam-diam para Templar melakukan penggalian ke bawahnya guna mencari harta karun yang diyakininya.

Sejarah memastikan, keberadaan Ordo Sion dan yang kemudian membentuk ordo militer (sayap militer) bernama Ksatria Templar merupakan upaya ordo ini untuk bisa terus menjaga sebuah rahasia yang selama berabad-abad terus dijaganya. Bukan hanya alasan ideologis, alasan duniawi pun membuat Ksatria Templar ini melakukan penggalian di bawah kamar-kamarnya untuk bisa menemukan harta karun kuil Sulaiman yang diyakini mereka selain berisi harta karun dalam arti sesungguhnya juga menyimpan satu misteri yang nilainya melebihi harta karun itu sendiri. The Holy Grail-kah itu?

Jika Ordo Sion dipercaya menempati markas di luar kota Yerusalem, makaKnights Templar bermarkas di jantung Yerusalem, tepat di sayap kiri istana King of Yerusalem. Dengan adanya pembagian seperti ini maka efektivitas tugas bisa disusun dengan lebih rapi.

Tahun 1099 Yerusalem dikuasai pasukan salib, tahun 1118 datang sembilan ksatria yang kemudian dikenal sebagai Ksatria Templar, dan selama itu hingga Yerusalem akhirnya bisa kembali dikuasai pasukan Muslim pimpinan Salahuddin Al-Ayyubi di tahun 1187, Ordo Sion dan Ordo Ksatria Templar atau Ksatria Kuil ini bergerak dalam dua strategi.

Di permukaan mereka bergerak layaknya ksatria salib lainnya yang keberadaannya di Yerusalem adalah untuk mempertahankan kota suci ini dan sekaligus menjaganya. Sedang di bawah permukaan, dengan diam-diam dan penuh kerhasiaan, mereka terus melakukan penelitian dan pencarian harta karun Sulaiman sampai melakukan penggalian tanah di bawah kamar-kamar tidur mereka. ‘Ayah’ dan ‘anak’ ini selalu saling menutupi dan melengkapi.

Hal tertsebut berjalan selama lebih kurang 69 tahun, hingga King Baldwin IV wafat dan seorang tokoh Ksatria Templar dari Perancis, Guy de Lusignan, suami dari Sybilla—adik King Baldwin IV, diangkat menjadi Raja Yerusalem yang baru.

Sebelum dan setelah menjadi raja, Guy de Lusignan bersahabat dengan amat kental dengan seorang tokoh Templar lain bernama Reynald de Cathillon. Reynald dikenal sebagai tokoh Templar yang bertemperamen sangat buruk dan haus darah. Dialah yang bertanggungjawab atas penyerangan sebuah suku Badui di mana seorang adik perempuan Salahuddin Al-Ayyubi ditangkap dan ditawan. Kejadian ini menimbulkan kemurkaan Salahuddin dan merobek-robek gencatan senjata yang telah dilakukan Salahuddin sebagai panglima pasukan Saracen (Islam) dengan King Baldwin IV.

King Baldwin IV akhirnya menghukum dan memenjarakan Reynald de Cathillon dan perang pun terhindarkan. Namun setelah King Baldwin IV yang memang sudah lama menderita lepra meninggal dunia dan digantikan oleh Guy de Lusignan, Reynald dibebaskan. Kepada Reynald, Guy berkata, “Give me a war!” Akhirnya pecahlah perang besar antara pasukan salib di bawah komando Ksatria Templar melawan pasukan Muslim pimpinan Salahuddin Al-Ayyubi. Peperangan ini berhasil dimenangkan oleh Salahuddin dan Yerusalem pun kembali berada di pangkuan umat Islam. Film Kingdom of Heaven yang disutradarai Ridley Scott (2004) dan dibintangi aktor Orlando Bloom dengan sangat apik menggambarkan episode bersejarah dalam Perang Salib ini.

Dengan jatuhnya Yerusalem, banyak ksatria salib dan keluarganya yang meninggalkan Yerusalem, kembali ke kampung halamannya masing-masing. Demikian pula dengan Ordo Sion dan para Ksatria Templar.

Ordo Sion sebagai ‘bapak’ menilai kekalahan perang ini lebih disebabkan sikap para ksatria Templar yang ceroboh, bahkan ada yang menuduh pimpinan Templar saat itu, Ridefort, berkhianat. Kemarahan ‘sang bapak’ ini tidak bisa lagi tertahankan. Begitu banyak rencana-rencana mereka menjadi berantakan. Akhirnya Ordo Sion mengambil sikap yang sangat berani. “Sang bapak’ akhirnya menceraikan ordo Ksatria Templar, ‘sang anak’. Pemisahan ini dilakukan dengan sebuah ritual dan dikenal dengan peristiwa ‘Penebangan Pohom Elm’ yang terjadi di tahun 1187. Sejak itu, Ordo Sion berganti nama menjadi Biarawan Sion dan memiliki Grand Masternya sendiri. Mereka secara resmi berpisah jalan. Namun siapa tahu dalam gerakan di bawah mereka sesungguhnya masih menyimpan agenda yang sama, dan bahkan tetap berjalan beriringan? Hal tersebut bukan hal yang mustahil.

|sumber:eramuslim.com
Redaksi – Selasa, 9 Rabiul Awwal 1436 H / 30 Desember 2014 15:03 WIB

Sabtu, 25 April 2015

Sejarah Rahasia Freemasonry dan Iluminati (9)

Sepeninggal Nabi Musa a.s., Bani Israil yang mayoritas sudah menyeleweng dari ajaran tauhid ini kemudian menjadi semakin menjadi-jadi dalam penyelewengannya. Mereka kian serius dalam mendalami sihir dan ajaran-ajaran esoteris. Hal ini membawa mereka kepada keangkuhan intelektual di mana mereka sangat yakin bahwa mereka sungguh-sungguh merupakan bangsa pilihan Tuhan yang diciptakan untuk menguasai dunia dan manusia lainnya. Mereka adalah bangsa yang paling mulia, sedangkan orang lain di luar mereka adalah ghoyim, manusia kelas dua.

Dalam lingkaran elit suku bangsa ini yang sebenarnya telah dikutuk Allah SWT karena kesesatan dan kekeras-kepalaan dalam penentangannya terhadap ketauhidan, tumbuh satu lapisan tersendiri yang secara intens melakukan pengkajian-pengkajian ilmu-ilmu sihir, esoteris, yang dikaji dengan memakai ilmu geometri, astronomi, dan sebagainya. Merekalah para pendeta (rabi) yang kemudian menulis-ulang Taurat, menulis Talmud sebagai kitab Yahudi yang sarat dengan kesesatan, dan yang kemudian merusak isi dari Alkitab yang asli dengan penyisipan ayat dan penambahan di sana-sini serta penghapusan sejumlah ayat yang dianggap tidak sesuai dengan keyakinan mereka.

Perjalanan mereka nyaris tanpa meninggalkan jejak. Namun walau demikian, hasil karya mereka sangat mudah dirasakan. Banyak peneliti yakin, mereka berada di belakang timbulnya Perang Salib, Revolusi Inggris dan Perancis, Revolusi Bolsyewik di Rusia, Jatuhnya Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, Perang Dunia I dan II, tersanderanya Bangsa Amerika oleh The Federal Reserve, dijajahnya Bangsa Amerika oleh Neo-Con yang membawa bangsa itu ke dalam situasi yang sama sekali tidak menyenangkan: WTC 9.11, Perang Afghanistan, Perang Irak, dan entah apa lagi, di mana ratusan ribu pemuda Amerika dikirim ke berbagai front pertempuran guna mensukseskanthe hidden agenda mereka. Dan banyak yang mati sia-sia.

Melihat ritual dan kepercayaan mereka yang sarat dengan ritual pemanggilan setan, lalu setelah setan itu masuk ke jasad seseorang, maka lewat medium itu setan akan memerintahkan ini dan itu, maka sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menjadi pelayan setan atau iblis. Agenda mereka adalah agenda iblis, yang senantiasa menghalangi manusia dari kebenaran, al-haq. Dan pelayan-pelayan setan ini telah masuk ke dalam berbagai organisasi, kumpulan misterius, dan bahkan rumah-rumah suci. Mereka juga berperang dengan sesamanya sehingga menimbulkan kebingungan orang banyak. Inilah misteri yang terjadi sepanjang abad.

Asal-muasal kelompok Biarawan Sion, atau Ordo Putih dalam Majelis Tinggi Kabbalah, bisa jadi merunut jauh ke masa manusia pertama di bumi ini yaitu Adam. Dalam mitologi Barat, Adam dan Eva (Islam menyebutnya: Siti Hawa) awalnya tinggal di surga (Taman Eden bagi Barat dan al-Jannah bagi umat Islam). Ketika Allah SWT memerintahkan semua mahluk untuk bersujud kepada Adam a.s., seluruh mahluk ciptaan Allah SWT ini tunduk dan segera bersujud, kecuali satu: Iblis[1]. Kepada Allah, Iblis mengutarakan pendapatnya, “Engkau menciptakan Adam dari tanah, sedangkan kami diciptakan dari Api, mengapa kami harus tunduk padanya?”

Pembangkangan Iblis ini kemudian menjadikan allah SWT murka dan memerintahkan agar Iblis segera meninggalkan surga. Sebelum pergi, Iblis berkata kepada Allah SWT agar membiarkan kaumnya untuk selalu mengganggu dan menghalangi manusia dari jalan kebenaran. Dan permintaan Iblis ini pun mendapat persetujuan.

Upaya pertama Iblis mengganggu manusia yakni dengan mengeluarkan Adam dan Eva dari surga. Caranya, ini menurut mitologi Barat, Iblis mengubah bentuknya menjadi ular dan mendekati Eva seraya membujuknya agar menyuruh Adam memakan buah Apel yang dikatakannya sebagai buah keabadian. Eva pun termakan bujuk rayu Iblis yang berbentuk ular. Eva segera menemui Adam dan membujuk Adam hingga suaminya itu memakan buah Apel tersebut. Akibatnya, Adam dan Eva diusir Tuhan keluar dari Taman Eden untuk menghabiskan sisa hidupnya di bumi. Diam-diam, Iblis pun mengikuti Adam dan Eva ‘turun’ ke bumi. Dan terus mengganggu semua keturunan Adam dan Eva ini.

Dari pasangan Adam dan Eva, manusia beranak-pinak menyebar ke seluruh bumi. Menjelajah berbagai wilayah dan menyeberangi lautan untuk mencari penghidupan. Iblis terus melancarkan misinya. Pada suatu ketika, Iblis berhasil mendekati Raja pertama di bumi ini, Raja Namrudz (atau Nimrod) yang masih keturunan dari Noah (Nabi Nuh a.s.) dari Kusy, sang anak. Raja Namrudz menjadi Raja di Babylonia dan mengangkat dirinya sebagai Tuhan yang paling perkasa, setelah melihat dan memikirkan bahwa patung-patung kayu dan batu yang disembah rakyatnya selama ini sama sekali tidak memiliki kekuatan apa-apa.

Selain menjadi raja pertama di bumi, Namrudz juga tercatat sebagai manusia pertama yang melakukan incest, mengawini ibunya sendiri, Semiramis, yang kemudian diangkatnya menjadi Ratu Langit. Namrudz sendiri mengaku sebagai orang suci dari Eden. Dalam zaman Namrudz, penyembahan terhadap matahari merupakan salah satu ritual penting. Inilah yang kemudian diadopsi berabad kemudian menjadi penyembahan Dewa Matahari yang dilakukan setiap 25 Desember dan hari Dewa Matahari menjadi hari untuk melakukan kebaktian. Hari Matahari yaitu Sun-Day (Minggu).

Lewat usaha-usaha dari Iblis inilah kemudian tumbuh satu kelompok manusia yang mempertuhankan Dewa-Dewi, bukan Allah SWT. Mereka mempertuhankan Lucifer dan menyebut diri sebagai The Brotherhood of the Snake (Ordo atau Persaudaraan Ular). Kelompok inilah yang kemudian menyebarkan pahamnya, mempertuhankan Lucifer, Dewa Matahari, dan Dewa-Dewi lainnya, ke seluruh dunia, sehingga sejarah manusia mengenal berbagai suku bangsa purba maupun modern yang memiliki ritual penyembahan terhjadap Lucifer dan Dewa Matahari (atau penyembahan terhadap Cahaya atau pun Api).

Di Mesir kita menjumpai rezim Fir’aun yang mirip sekali dengan Raja Namrudz dan memiliki banyak ritual penyembahan terhadap Dewa-Dewi dan juga Matahari. Fir’aun sendiri menyebut dirinya sebagai Raja Cahaya. Di Amerika Latin, Suku Inca dan Suku Maya, terdapat Kuil Matahari. Di Persia (Iran) terdapat ajaran Zoroaster[2] yang menyembah api.

Di Jepang ada ‘agama Shinto’ yang menyembah Dewa Matahari (Amaterasu). Di Yunani (Greek) terdapatHelios (Dewa Matahari) dengan Heliopolis sebagai ‘Kota Cahaya’. Di Timur Tengah ada Baal yang juga sebagai ‘Dewa Matahari’. Dewa Mithra sebagai Dewa Mataharinya bangsa Romawi. Dewa Surya di India. Dan hampir di setiap sudut bumi ini ada kepercayaan-kepercayaan serupa yang menuhankan Matahari atau yang sejenis yakni api atau cahaya. Inilah kerja Iblis.

Namun kesyirikan yang terjadi di Dunia Arab memang sungguh-sungguh besar dan kuat. Sebab, di sinilah awal pertama kali manusia berperadaban dan membangun peradabannya. Sebab itu, para nabi diutus untuk meluruskan keimanan manusia di wilayah ini. Nabi Ibrahim a.s. diutus untuk meluruskan umatnya yang ditipu mentah-mentah oleh Raja Namrudz. Nabi Musa a.s. berupaya meluruskan Bani Israil dan membela mereka dari Fir’aun, namun Bani Israil lebih condong kepada kesesatan dan kufur nikmat sehingga menjadi kaum yang dikutuk Allah SWT dan diharamkan Allah menginjakkan kakinya lagi di Palestina, dan sebagainya. Dan The Brotherhood of the Snake pun memiliki basis yang sangat kuat di Timur Tengah ini, antara lain di Mesir (Egypt).

Kelompok Persaudaraan Ular inilah yang diyakini berada di sekeliling Fir’aun dalam bentuk pendeta-pendeta tinggi yang menjadi Master dalam doktrin Kabbalah. Kelompok ini pula yang mengepalai Majelis Tertinggi Kabbalah yang membawahi tiga ordo: Ordo Putih, Ordo Hijau, dan Ordo Kuning. Dari Ordo Putih Kabbalah inilah, yang menekankan perjuangan politik dan kekuasaan, Ordo Sion berasal. Godfrei de Bouillon sendiri oleh sebagian peneliti diyakini merupakan seorang Kabbalis. Jika ini memang benar adanya, berarti seluruh konspirasi mereka sejak masih bernama Templar hingga kini yang bernama IMF, World Bank, Neo-Con, Judeo-Christian, dan Zionisme, seluruhnya merupakan usaha-usaha dari Iblis untuk menciptakan kerajaannya di dunia. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

[1] Iblis memiliki arti sebagai pembangkang atau yang mengingkari.

[2] Zoroaster dipimpin oleh para pendetanya yang disebut ‘Magi’. Ritual atau upacara keagamaannya disebut ‘Magus’,  dan dari istilah inilah asal kata ‘Magis’. Al-Hadits menyebut kaum Zoroaster ini dengan sebutan Majusi atau kaum penyembah api. Kaum Majusi masih ada hingga kini di Iran.

|sumber:eramuslim.com
Redaksi – Selasa, 9 Rabiul Awwal 1436 H / 30 Desember 2014 04:41 WIB

NWO Untold, Sejarah Rahasia Freemasonry dan Iluminaty (8)

Sejak segolongan dari Bani Israil membuat patung-patung untuk disembah mengikuti kaum pagan Mesir kuno, menyisipkan ayat-ayat bikinan sendiri yang mendukung Kabbalah ke dalam Taurat, sejak itulah banyak di antara golongan bangsa Yahudi yang kemudian jatuh terperosok ke dalam kepercayaan yang salah dan sesat. Walau demikian, tetap ada hingga kini orang-orang Yahudi yang tetap berjalan lurus mengikuti ajaran Taurat Musa a.s. Bisa jadi, sekarang ini mereka diwakili oleh kelompok orang Yahudi yang anti kepada Zionisme-Israel. Hal tersebut sesuatu yang lumrah dan biasa.

Kaum Yahudi penganut Kabbalah, yang karena beberapa ajaran mistismenya menjadi kelompok-kelompok rahasia dan tertutup terhadap ‘orang luar’, meneruskan tradisi ini turun-temurun secara lisan. Beberapa tradisi ajaran pagan ini diyakini ditulis dalam perkamen-perkamen dan naskah-naskah kuno, namun yang tertulis ini dibuat dengan sandi-sandi dan kode tertentu, dan juga disimpan di suatu tempat yang dianggap aman. Tradisi lisan inilah yang kemudian disebut sebagai Kabbalah. Jadi, ketika Bani Israil berjumpa dengan ajaran pagan ini, namanya belumlah Kabbalah, namun yang lain dan tidak diketahui secara pasti mana nama yang dahulu dipakai.

ASAL MUASAL BIARAWAN SION

Jika Harun Yahya dan penulis lainnya menganggap Bani Israil terkontaminasi dengan ajaran paganisme yang dilakukan oleh para pendeta penyihir yang berada di sekeliling Fir’aun, sehingga mencampakkan ketauhidan dengan memegang erat ajaran Kabbalah yang berasal dari kata Ibrani ‘Qibil’ yang bermakna: menerima. Maka seorang Z.A. Maulani dengan berdasarkan penelitian literaturnya merujuk akar Kabbalah dan asal-muasal Biarawan Sion lebih jauh lagi, ke masa-masa di mana Nabi Ibrahim a.s., Bapak Para Nabi, masih hidup.

Menurut Maulani, sejak Bani Israil terlahir dari anak keturunan Ishaq, telah ada sebagian yang cenderung pada kesesatan. Apakah kesesatan itu sesuatu yang sudah inheren berada dalam diri mereka atau karena faktor eksternal, hal ini tidak diketahui secara pasti.

Yang jelas, bagian dari Bani Israil awal yang telah condong pada kesesatan ini membentuk satu kelompok tersendiri, bersifat tertutup dan penuh dengan kerahasiaan, dan memelihara ajaran Kabbalah. Shamir atau Samiri yang diabadikan namanya dalam Al-Qur’an merupakan salah satu pendeta tinggi Kabbalah.

Beberapa waktu setelah berakhirnya pendudukan Romawi atas Palestina, para pendeta tinggi Kabbalah merekam secara tertulis ajaran Kabbalah ini ke atas papyrus berupa gulungan (Scroll) sebagai usaha agar ajaran itu dapat diwarisi kepada generasi Yahudi berikutnya. Tugas menyalin ajaran Kabbalah itu dibebankan kepada dua orang petingginya yakni Rabi Akiva ben Josef yang menjadi The Grand Master Pendeta Sanhedrin, dan wakilnya, Rabi Simon ben Joachai. Saat itu Kabbalah tersusun dalam dua kitab: Sefer Yetzerah(Kitab Genesis yang menguraikan proses penciptaan alam semesta menurut Kabbalah), dan Sefer Zohar (Kitab Keagungan).[1]

Kitab Zohar penuh dengan ayat-ayat yang hanya bisa dipahami dengan memecahkan kode-kode dan sandi-sandinya. Amsal dan ayat-ayat dalam Kitab Zorah hanya bisa dipahami dengan bantuan Kitab Yetzerah yang berfungsi sebagai kitab tarjamah. Beberapa abad sesudah Masehi, di Eropa muncul lagi sebuah kitab Kabbalah yang diberi namaSefer Bahir atau Kitab Cahaya. Walau pada awalnya hanya ditulis dalam bahasa Ibrani, atas pertimbangan pragmatisme kemudian juga disalin dalam bahasa latin. Ketiga kitab itu samapi saat ini menjadi pegangan suci para penganut okultisme (Gereja Setan dan Kabbalah).

Di Palestina, kelompok persaudaraan Kabbalah dipimpin oleh Herodus II (Herodes), Gubernur Romawi untuk Yerusalem, yang dibantu dua orang: Ahiram Abiyud dan Moav Levi. Herodus II memimpin kaum Kabbalis melawan penyebaran ajaran Yesus dan berupaya membangun kembali Haikal Sulaiman di Yerusalem sebagai basis gerakan mereka. Majelis Tertinggi Kabbalah yang terdiri dari sembilan pendeta tertinggi menggelar sidang pada tanggal 10 Agustus 43 Masehi. Sidang itu dipimpin langsung oleh Herodus II dan menyepakati akan mengakhiri kegiatan Yesus serta para muridnya. Sebelumnya, Herodus II inilah yang telah memerintahkan penyembelihan terhadap Nabi Zakaria a.s. dengan memakai gergaji pemotong kayu. Ia juga yang bertanggungjawab dalam kasus pembunuhan Nabi Yahya a.s. dan memerintahkan agar mempersembahkan kepala Nabi Yahya yang telah dipenggal di atas sebuah nampan ke hadapannya.

Dengan kekuasaannya, Herodus memerintahkan Majelis Tinggi Pendeta Sanhedrin, badan tertinggi pada hirarki kependetaan Yahudi, agar mengeluarkan dekrit hukuman mati berdasarkan hukum Romawi di atas kayu salib terhadap Yesus dengan tuduhan telah menghujat Tuhan. Dengan waktu singkat berdiri pula empatpuluhan gereja Kabbalis di Palestina dan kemudian menyebar ke seluruh kekaisaran Romawi dan membangun akarnya di Eropa.

Apakah dengan ini berarti Tahta Suci Vatikan merupakan hasil kerja dari Herodus II? Jika benar, mengapa Kaum Kabbalis yang mengejawantah dalam organisasi Templar dan Freemason kemudian hendak menghancurkan Tahta Suci Vatikan dan membangun Tahta Suci di Yerusalem bagi The Second ComingYesus Kristus, seolah kaum Kabbalis ini adalah kaum pembela Yesus?

Bukankah kaum ini merupakan satu kaum pembunuh para nabi? Atau mungkin ini terkait dengan kelaziman mereka dalam menjaga situasi konflik agar mereka bisa terus bekerja dengan rapi? Dan jika mereka membunuh Yesus, mengapa Yesus malah diselamatkan kaum Esenes dengan para Zealotnya yang juga merupakan kaum Yahudi? Apakah dengan ini menjadi satu pembuktian bahwa sesungguhnya Bani Israil atau kaum Yahudi itu tidaklah satu, bukan satu kaum yang bersatu, melainkan terpecah-belah ke dalam berbagai kepentingan?

Sekte Esenes dengan Zealotnya serta kaum Gnostik lainnya yang meyakini Yesus hanyalah seorang Nabi, bukan Tuhan, yang hidup penuh dengan kesederhanaan dan lurus di satu sisi, berhadapan dengan para Yahudi Talmudian yang cenderung menyembah setan dan hidup berkomplot dalam kejahatan demi menguasai dunia bagi diri mereka sendiri. Di masa modern, pemilahan ini bisa jadi tergambar dalam friksi tajam di antara kaum Yahudi sendiri antara yang pro-Zionis-Israel, berhadapan dengan kaum Yahudi yang anti Zionis-Israel. Di Amerika Serikat, berdiri organisasi Yahudi bernama Neturei-Karta yang merupakan kelompok Yahudi yang anti terhadap Zionisme dan Israel.

Kelompok persaudaraan Kabbalah diyakini telah berusia lebih dari 4.000 tahun. Jauh lebih tua dari agama Kristen itu sendiri. Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan ordo ini lahir.  Namun sejumlah peneliti mencatat, pada era Dinasti Ur ke III (antara 2112-2004 SM), saat masa-masa pembuangan suku-suku Bani Israil ke Babylonia, di saat itulah Ordo Kabbalah terbentuk. Sejak awal berdiri hingga kini ada tiga jenis Ordo Kabbalah yakni Ordo Hijau, Ordo Kuning, dan Ordo Putih.

Maulani menyatakan, dari ketiga ordo tersebut, yang paling menarik karena kemisteriusannya adalah Ordo Putih. Ordo ini jarang teridentifikasi oleh para peneliti. Jika ordo yang lain lebih menekankan pada aspek-aspek ritual, ajaran penyembahan Lucifer, maka Ordo Putih ini lebih menekankan misi politik dan kekuasaan. Merekalah yang merumuskan bahwa tujuan akhir Kabbalis adalah untuk membentuk “Satu Pemerintahan Dunia” (Unity of the Worldatau meminjam seloka mereka “E Pluribus Unum”) dan “Tata Dunia Baru” (Novus Ordo Seclorum atau The New World Order). Merekalah peletak dasar-dasar peradaban Barat sekarang.

Tidak semua orang yang berdarah Yahudi bisa masuk dalam Ordo Putih. Hanya orang Yahudi murni yang terpilihlah yang bisa mencapainya. Itu pun harus melewati sejumlah seleksi yang ketat. Salah satunya, hanya orang Yahudi murni yang telah mencapai gelar magister pada semua disiplin ilmu yang terkait Kabbalah yang bisa memasuki ordo ini. Disiplin ilmu ini berada di luar berbagai disiplin ilmu yang kita kenal di perguruan-perguruan tinggi terkemuka dunia. Ini berarti, seorang Yahudi yang murni, yang berasal dari garis keturunan yang sungguh-sungguh lurus, setelah 40 tahun menjalani ‘seleksi’ baru bisa diterima menjadi anggota ordo tersebut. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

[1] Z.A. Maulani; Zionisme, Gerakan Menaklukan Dunia; Daseta; cet.1; April 2002; Jakarta; hal. 38.

|sumber:eramuslim.com
Redaksi – Minggu, 28 Desember 2014 06:24 WIB

NWO Untold, Sejarah Tersembunyi Freemasonry dan Iluminaty (7)

Ilmu sihir yang ada sekarang ini diyakini berasal dari tradisi dan kepercayaan Babilonia kuno dan Mesir Kuno. Biarawan Sion diyakini telah mewarisi atau setidaknya mempelajari dengan kesungguhan yang luar biasa ilmu yang jelas-jelas berada di luar ajaran Tuhan ini. Semuanya bisa ditelusuri dalam kisaj antara Nabi Musa dan Bani Israil.

Nabi Musa dan Bani Israil

Dalam Taurat kitab “Keluaran” (Exodus) ada kisah tentang Nabi Musa a.s. dan Bani Israil. Namun sayangnya, keotentikan kitab Taurat ternyata sudah tercemar dengan berbagai penambahan yang dilakukan pihak-pihak tertentu. Dalam Kitab Ulangan ditemukan kisah kematian dan penguburan Nabi Musa a.s. Padahal kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa a.s. Tidak bisa tidak, inilah bukti bahwa Taurat sudah tidak lagi asli.

Hal yang sama terjadi pula pada kitab-kitab suci lainnya, terkecuali Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an-lah kita bisa menemukan kisah yang paling akurat tentang eksodusnya Nabi Musa a.s. dan Bani Israil dari Mesir. Pada pengisahan tentang keluarnya Bani Israil dari Mesir, sebagaimana juga pada semua kisah lain yang berhubungan dengannya, tidak ada sedikit pun pertentangan. Kisah tersebut diceritakan kembali dengan jelas.

Lewat Al-Qur’an kita menjadi tahu betapa sikap kelakuan Bani Israil tidak bisa berubah walau mereka telah diselamatkan Allah SWT dengan diseberangkannya mereka melewati Laut Merah yang terbelah. Bani Israil tidak mampu memahami ajaran tauhid yang disampaikan Musa kepada mereka, dan terus cenderung kepada penyembahan berhala. Al-Qur’an memaparkan sikap mereka yang aneh ini pada ayat berikut:

“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai pada suatu kaum yang tetap meyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: ‘Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)’. Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”.

Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al A’raaf: 138-139)

Walau telah diperingatkan oleh Nabi Musa a.s., Bani Israil tetap dalam pendirian dan penentangannya. Dan ketika Musa meninggalkan mereka, mendaki Bukit Thursina seorang diri untuk menerima “Firman yang Sepuluh” (The Ten Commandment), penentangan itu tampak sepenuhnya. Dengan memanfaatkan ketiadaan Musa, tampillah seorang bernama Samiri. Dia meniup-niupkan kecenderungan Bani Israil terhadap keberhalaan, dan membujuk mereka untuk membuat patung seekor anak sapi dan menyembahnya. Samiri[1] merupakan salah satu tokoh tinggi Kabbalah.

“Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa: “Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, lalu kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?”.

Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya”, kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa.” (QS. Thahaa, 20: 86-88)

Mengapa ada kecenderungan yang gigih di kalangan Bani Israil untuk membangun berhala dan menyembahnya? Dari mana kecenderungan ini bersumber? Harun Yahya, yang meneliti dan memaparkan kisah ini sampai pada satu hipotesis: “Sudah tentu, suatu masyarakat yang sebelumnya tidak pernah menyembah berhala, tidak akan secara tiba-tiba berkelakuan bodoh seperti membangun patung dan menyembahnya. Hanya mereka yang memiliki kecenderungan alami terhadap berhala yang akan mempercayai omong kosong semacam itu.”

Namun walau demikian, dahulu kala sebelumnya Bani Israil adalah kaum yang bertauhid. Nama ‘Bani Israil’ pertama kali diberikan kepada putra-putra Ya’kub, cucu Ibrahim, dan setelahnya semua bangsa Yahudi merupakan keturunannya. Bani Israil telah menjaga iman tauhid yang mereka warisi dari leluhur mereka Ibrahim, Ishak, dan Ya’kub a.s. Bersama Yusuf a.s., mereka pergi ke Mesir dan memelihara ketauhidan itu dalam waktu yang panjang. Walau mereka hidup di tengah masyarakat Mesir yang masih menganut paganisme, banyak dewa. Jadi, ketika Musa datang kepada mereka, Bani Israil masih merupakan satu kaum yang bertauhid.

Satu-satunya penjelasan untuk ini adalah bahwa Bani Israil secara perlahan terpengaruh oleh kaum pagan yang hidup bersama mereka, dan mulai meniru mereka. Satu bukti penting yang mendukung kesimpulan ini adalah bahwa anak sapi emas yang disembah Bani Israil saat Musa berada di Gunung Sinai. Anak sapi emas ini merupakan tiruan dari berhala Mesir Kuno bernama Hathor dan Aphis. Penulis Kristen Richard Rives dalam bukunya Too Long in the Sun menulis:

Hathor dan Aphis, dewa-dewa sapi betina dan jantan bangsa Mesir, merupakan perlambang dari penyembahan matahari. Penyembahan mereka hanyalah satu tahapan di dalam sejarah pemujaan matahari oleh bangsa Mesir. Anak sapi emas di Gunung Sinai adalah bukti yang lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa pesta yang dilakukan berhubungan dengan penyembahan matahari….

Pengaruh agama pagan bangsa Mesir terhadap Bani Israil terjadi dalam banyak tahapan yang berbeda. Begitu mereka bertemu dengan kaum pagan, kecenderungan ke arah kepercayaan bidah ini muncul dan sebagaimana disebutkan dalam ayat, mereka berkata:“Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka memunyai beberapa tuhan (berhala).” (QS. Al A’raaf, 7: 138) Apa yang mereka ucapkan kepada Nabi mereka, “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang.” (QS. Al Baqarah, 2: 55)menunjukkan bahwa mereka memiliki kecenderungan untuk menyembah benda nyata yang dapat mereka lihat, sebagaimana yang terdapat pada agama pagan bangsa Mesir.

Kecenderungan Bani Israil terhadap paganisme Mesir Kuno penting untuk dipahami dan hal itu kelak memberi kita wawasan tentang perubahan dari teks Taurat dan asal usul dari Kabbalah. Jika kita pikirkan kedua topik ini dengan hati-hati, kita akan mencermati bahwa, pada sumbernya, ditemukan paganisme Mesir Kuno dan filsafat materialis sebagai asal-muasal Kabbalah.

Dari Al-Qur’an dan keterangan pendukung lainnya diketahui bahwa semasa Nabi Musa a.s. masih hidup, Bani Israil telah mulai membuat tiruan dari berhala-berhala yang mereka lihat di Mesir dan menyembahnya. Setelah Musa wafat, makin besarlah pengikut keyakinan sesat ini. Tentu saja, ini tidak terjadi pada semua orang Yahudi. Masih ada orang-orang Yahudi yang tetap dalam ketauhidan mereka. Namun jumlah yang berjalan dengan lurus ini sangatlah sedikit dibanding yang menyeleweng. Namun bagaimana pun juga, hati kecil orang-orang ini sebenarnya mengetahui bahwa hal tersebut tidaklah benar. Sebab itu, mereka kemudian mulai menyusupkan ajaran paganisme ini sedikit demi sedikit ke dalam Taurat mereka, sehingga di kemudian hari terciptalah Taurat—yang sesungguhnya kitab yang mendukung ketauhidan—menjadi sebuah kitab yang membenarkan Kabbalah, suatu keyakinan esoterik bangsa Mesir purba. Taurat yang telah banyak dicampuri dengan tangan manusia itu kemudian menjadi tidak beda dengan Kitab Talmud, sebuah kitab kuno yang merangkum tradisi dan ritual bangsa Yahudi awal.

Dengan mengadopsi doktrin-doktrin dari Kabbalah yang berlandaskan ilmu sihir ini, Bani Israil telah mengubah Taurat dan  memasukkan Kabbalah sebagai doktrin mistis di dalam agama Yahudi, walau ini sesungguhnya bertentangan dengan Taurat yang asli. Penulis Inggris Nesta H. Webster dalam Secret Societies and Subversive Movements, menulis:

Ilmu sihir telah dipraktikkan oleh bangsa Kanaan sebelum pendudukan Tanah Filistin oleh Bani Israil; Mesir, India, dan Yunani juga memiliki tukang tenung dan peramal. Walau di dalam Hukum-Hukum Musa terkandung pelarangan atas ilmu sihir, bangsa Yahudi, dengan mengesampingkan peringatan ini, tertular dan mencampurkan tradisi suci yang mereka warisi dengan pemikiran-pemikiran yang sebagian dipinjam dari bangsa lain dan sebagian karangan mereka sendiri. Secara bersamaan, sisi spekulatif dari Kabbalah Yahudi meminjam dari filsafat Persia Magi, Neo-Platonis, dan Neo-Phytagorean. Maka, terdapat justifikasi bagi pendapat kelompok anti-Kabbalah bahwa apa yang kita kenal sebagai Kabbalah saat ini tidaklah murni asli dari Yahudi.

Tentang hal ini Al-Qur’an telah menyinggungnya dan menyatakan bahwa Bani Israil mempelajari ritual persihiran setan dari sumber-sumber di luar agama mereka sendiri.

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”.

Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 102)  [Bersambung/rizki ridyasmara]

[1] Ada yang mempercayai bahwa istilah “Uncle Sam’ berasal pula dari nama Samiri ini atau yang dalam bahasa Ibrani disebut Shamir. Istilah Semit pun diduga berasal dari Nama Samiri. Walau demikian, ada pula yang berpandangan bahwa ‘Uncel Sam’ sesungguhnya merujuk pada Sain-Germain, yang juga tidak jelas latar belakangnya. Hanya saja bangsa Amerika percaya, Saint Germain merupakan reinkarnasi dari orang-orang besar yang pernah hidup di dunia dan disetarakan dengan ‘Dewa Kebebasan’.

|sumber:eramuslim.com
Redaksi – Sabtu, 6 Rabiul Awwal 1436 H / 27 Desember 2014 05:47 WIB

NWO Untold, Sejarah Tersembunyi Freemasonry dan Iluminaty (7)

Ilmu sihir yang ada sekarang ini diyakini berasal dari tradisi dan kepercayaan Babilonia kuno dan Mesir Kuno. Biarawan Sion diyakini telah mewarisi atau setidaknya mempelajari dengan kesungguhan yang luar biasa ilmu yang jelas-jelas berada di luar ajaran Tuhan ini. Semuanya bisa ditelusuri dalam kisaj antara Nabi Musa dan Bani Israil.

Nabi Musa dan Bani Israil

Dalam Taurat kitab “Keluaran” (Exodus) ada kisah tentang Nabi Musa a.s. dan Bani Israil. Namun sayangnya, keotentikan kitab Taurat ternyata sudah tercemar dengan berbagai penambahan yang dilakukan pihak-pihak tertentu. Dalam Kitab Ulangan ditemukan kisah kematian dan penguburan Nabi Musa a.s. Padahal kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa a.s. Tidak bisa tidak, inilah bukti bahwa Taurat sudah tidak lagi asli.

Hal yang sama terjadi pula pada kitab-kitab suci lainnya, terkecuali Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an-lah kita bisa menemukan kisah yang paling akurat tentang eksodusnya Nabi Musa a.s. dan Bani Israil dari Mesir. Pada pengisahan tentang keluarnya Bani Israil dari Mesir, sebagaimana juga pada semua kisah lain yang berhubungan dengannya, tidak ada sedikit pun pertentangan. Kisah tersebut diceritakan kembali dengan jelas.

Lewat Al-Qur’an kita menjadi tahu betapa sikap kelakuan Bani Israil tidak bisa berubah walau mereka telah diselamatkan Allah SWT dengan diseberangkannya mereka melewati Laut Merah yang terbelah. Bani Israil tidak mampu memahami ajaran tauhid yang disampaikan Musa kepada mereka, dan terus cenderung kepada penyembahan berhala. Al-Qur’an memaparkan sikap mereka yang aneh ini pada ayat berikut:

“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai pada suatu kaum yang tetap meyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: ‘Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)’. Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”.

Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al A’raaf: 138-139)

Walau telah diperingatkan oleh Nabi Musa a.s., Bani Israil tetap dalam pendirian dan penentangannya. Dan ketika Musa meninggalkan mereka, mendaki Bukit Thursina seorang diri untuk menerima “Firman yang Sepuluh” (The Ten Commandment), penentangan itu tampak sepenuhnya. Dengan memanfaatkan ketiadaan Musa, tampillah seorang bernama Samiri. Dia meniup-niupkan kecenderungan Bani Israil terhadap keberhalaan, dan membujuk mereka untuk membuat patung seekor anak sapi dan menyembahnya. Samiri[1] merupakan salah satu tokoh tinggi Kabbalah.

“Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa: “Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, lalu kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?”.

Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya”, kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa.” (QS. Thahaa, 20: 86-88)

Mengapa ada kecenderungan yang gigih di kalangan Bani Israil untuk membangun berhala dan menyembahnya? Dari mana kecenderungan ini bersumber? Harun Yahya, yang meneliti dan memaparkan kisah ini sampai pada satu hipotesis: “Sudah tentu, suatu masyarakat yang sebelumnya tidak pernah menyembah berhala, tidak akan secara tiba-tiba berkelakuan bodoh seperti membangun patung dan menyembahnya. Hanya mereka yang memiliki kecenderungan alami terhadap berhala yang akan mempercayai omong kosong semacam itu.”

Namun walau demikian, dahulu kala sebelumnya Bani Israil adalah kaum yang bertauhid. Nama ‘Bani Israil’ pertama kali diberikan kepada putra-putra Ya’kub, cucu Ibrahim, dan setelahnya semua bangsa Yahudi merupakan keturunannya. Bani Israil telah menjaga iman tauhid yang mereka warisi dari leluhur mereka Ibrahim, Ishak, dan Ya’kub a.s. Bersama Yusuf a.s., mereka pergi ke Mesir dan memelihara ketauhidan itu dalam waktu yang panjang. Walau mereka hidup di tengah masyarakat Mesir yang masih menganut paganisme, banyak dewa. Jadi, ketika Musa datang kepada mereka, Bani Israil masih merupakan satu kaum yang bertauhid.

Satu-satunya penjelasan untuk ini adalah bahwa Bani Israil secara perlahan terpengaruh oleh kaum pagan yang hidup bersama mereka, dan mulai meniru mereka. Satu bukti penting yang mendukung kesimpulan ini adalah bahwa anak sapi emas yang disembah Bani Israil saat Musa berada di Gunung Sinai. Anak sapi emas ini merupakan tiruan dari berhala Mesir Kuno bernama Hathor dan Aphis. Penulis Kristen Richard Rives dalam bukunya Too Long in the Sun menulis:

Hathor dan Aphis, dewa-dewa sapi betina dan jantan bangsa Mesir, merupakan perlambang dari penyembahan matahari. Penyembahan mereka hanyalah satu tahapan di dalam sejarah pemujaan matahari oleh bangsa Mesir. Anak sapi emas di Gunung Sinai adalah bukti yang lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa pesta yang dilakukan berhubungan dengan penyembahan matahari….

Pengaruh agama pagan bangsa Mesir terhadap Bani Israil terjadi dalam banyak tahapan yang berbeda. Begitu mereka bertemu dengan kaum pagan, kecenderungan ke arah kepercayaan bidah ini muncul dan sebagaimana disebutkan dalam ayat, mereka berkata:“Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka memunyai beberapa tuhan (berhala).” (QS. Al A’raaf, 7: 138) Apa yang mereka ucapkan kepada Nabi mereka, “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang.” (QS. Al Baqarah, 2: 55)menunjukkan bahwa mereka memiliki kecenderungan untuk menyembah benda nyata yang dapat mereka lihat, sebagaimana yang terdapat pada agama pagan bangsa Mesir.

Kecenderungan Bani Israil terhadap paganisme Mesir Kuno penting untuk dipahami dan hal itu kelak memberi kita wawasan tentang perubahan dari teks Taurat dan asal usul dari Kabbalah. Jika kita pikirkan kedua topik ini dengan hati-hati, kita akan mencermati bahwa, pada sumbernya, ditemukan paganisme Mesir Kuno dan filsafat materialis sebagai asal-muasal Kabbalah.

Dari Al-Qur’an dan keterangan pendukung lainnya diketahui bahwa semasa Nabi Musa a.s. masih hidup, Bani Israil telah mulai membuat tiruan dari berhala-berhala yang mereka lihat di Mesir dan menyembahnya. Setelah Musa wafat, makin besarlah pengikut keyakinan sesat ini. Tentu saja, ini tidak terjadi pada semua orang Yahudi. Masih ada orang-orang Yahudi yang tetap dalam ketauhidan mereka. Namun jumlah yang berjalan dengan lurus ini sangatlah sedikit dibanding yang menyeleweng. Namun bagaimana pun juga, hati kecil orang-orang ini sebenarnya mengetahui bahwa hal tersebut tidaklah benar. Sebab itu, mereka kemudian mulai menyusupkan ajaran paganisme ini sedikit demi sedikit ke dalam Taurat mereka, sehingga di kemudian hari terciptalah Taurat—yang sesungguhnya kitab yang mendukung ketauhidan—menjadi sebuah kitab yang membenarkan Kabbalah, suatu keyakinan esoterik bangsa Mesir purba. Taurat yang telah banyak dicampuri dengan tangan manusia itu kemudian menjadi tidak beda dengan Kitab Talmud, sebuah kitab kuno yang merangkum tradisi dan ritual bangsa Yahudi awal.

Dengan mengadopsi doktrin-doktrin dari Kabbalah yang berlandaskan ilmu sihir ini, Bani Israil telah mengubah Taurat dan  memasukkan Kabbalah sebagai doktrin mistis di dalam agama Yahudi, walau ini sesungguhnya bertentangan dengan Taurat yang asli. Penulis Inggris Nesta H. Webster dalam Secret Societies and Subversive Movements, menulis:

Ilmu sihir telah dipraktikkan oleh bangsa Kanaan sebelum pendudukan Tanah Filistin oleh Bani Israil; Mesir, India, dan Yunani juga memiliki tukang tenung dan peramal. Walau di dalam Hukum-Hukum Musa terkandung pelarangan atas ilmu sihir, bangsa Yahudi, dengan mengesampingkan peringatan ini, tertular dan mencampurkan tradisi suci yang mereka warisi dengan pemikiran-pemikiran yang sebagian dipinjam dari bangsa lain dan sebagian karangan mereka sendiri. Secara bersamaan, sisi spekulatif dari Kabbalah Yahudi meminjam dari filsafat Persia Magi, Neo-Platonis, dan Neo-Phytagorean. Maka, terdapat justifikasi bagi pendapat kelompok anti-Kabbalah bahwa apa yang kita kenal sebagai Kabbalah saat ini tidaklah murni asli dari Yahudi.

Tentang hal ini Al-Qur’an telah menyinggungnya dan menyatakan bahwa Bani Israil mempelajari ritual persihiran setan dari sumber-sumber di luar agama mereka sendiri.

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”.

Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 102)  [Bersambung/rizki ridyasmara]

[1] Ada yang mempercayai bahwa istilah “Uncle Sam’ berasal pula dari nama Samiri ini atau yang dalam bahasa Ibrani disebut Shamir. Istilah Semit pun diduga berasal dari Nama Samiri. Walau demikian, ada pula yang berpandangan bahwa ‘Uncel Sam’ sesungguhnya merujuk pada Sain-Germain, yang juga tidak jelas latar belakangnya. Hanya saja bangsa Amerika percaya, Saint Germain merupakan reinkarnasi dari orang-orang besar yang pernah hidup di dunia dan disetarakan dengan ‘Dewa Kebebasan’.

|sumber:eramuslim.com
Redaksi – Sabtu, 6 Rabiul Awwal 1436 H / 27 Desember 2014 05:47 WIB

NWO Untold (6)

Berpegang pada pendapat dan temuan para peneliti di ataslah, penulis The Hiram Key meyakini para Templar telah menemukan sesuatu yang telah mengubah pandangan mereka terhadap dunia dan kehidupan. Ada pula yang secara kritis memandang bahwa kedatangan para Templar ke Yerusalem tentulah ada yang membawanya. Para Templar itu, asalnya adalah penganut Kristen dan datang dari Dunia Kristen, namun setelah di Yerusalem dan menemukan sesuatu, mereka kemudian dengan cepat mengalami perubahan fundamental dan diketahui mulai mempraktekkan ritual-ritual yang tak ada hubungannya sama sekali dengan kekristenan, upacara sihir, dan berbagai bid’ah lainnya. Sesuatu itu diyakini sebagai Kabbalah.

Menurut Encarta Encyclopedia (2005), istilah Kabbalah berasal dari bahasa Ibrani yang memiliki pengertian luas sebagai ilmu kebatinan Yahudi atauJudaism dalam bentuk dan rupa yang amat beragam dan hanya dimengerti oleh sedikit orang. Pada abad ke-13 petilasan Kabbalah ditemukan di Spanyol dan Provence (Perancis). Sedang secara harfiah, Kabbalah memiliki arti sebagai ‘tradisi lisan’. Kabbalah ini mempelajari arti tersembunyi dari Taurat dan naskah-naskah kuno Judaisme. Walau demikian, diyakini bahwa Kabbalah sesungguhnya memiliki akar yang lebih panjang dan merujuk pada ilmu-ilmu sihir kuno di zaman Fir’aun yang biasa dikerjakan dan menjadi alat kekuasaan para pendeta tinggi di sekitar Fir’aun.

Kabbalah yang juga secara harfiah memiliki arti sebagai ‘Tradisi lisan’ ini di dalamnya sarat dengan berbagai filsafat esoteris dan ritual penyembahan serta pemujaan berhala, bahkan penyembahan iblis, yang telah ada jauh sebelum Taurat dan telah menyebar luas bersama Judaisme, yang seluruhnya berurat dan berakar pada praktek-praktek kebatinan serta penyembahan dewa-dewi yang sudah ada pada zaman Mesir Kuno. Hal tersebut diutarakan oleh pakar sejarah Yahudi Fabre d’Olivet. “Kabbalah merupakan suatu tradisi yang dipelajari oleh sebagian pemimpin Bani Israil di Mesir Kuno, dan diteruskan sebagai tradisi dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi,” demikian d’Olivet. Banyak kalangan percaya, Kabbalah adalah induk dari segala induk ilmu sihir yang ada di dunia hingga hari ini.

Dianutnya Kabbalah oleh orang-orang Yahudi mengundang tanda tanya besar pada diri seorang Harun Yahya. “Ini sungguh aneh. Jika kita memandang Yahudi sebagai sebuah agama Monoteistik, yang diawali dengan turunnya Taurat kepada Nabi Musa a.s. Tapi kenyataannya, di dalam agama ini ada sebentuk sistem yang disebut Kabbalah, yang mengadopsi praktik-praktik dasar sihir yang sebenarnya dilarang dan bertentangan dengan Taurat. Hal ini memperkuat apa yang telah disebutkan sebelumnya, dan menunjukkan bahwa Kabbalah sebenarnya merupakan elemen yang menyusup ke dalam agama Yahudi dari luar.”

Pelacakan terhadap Kabbalah, intisari pijakan ideologis Biara Sion yang kemudian ditularkan ke Ordo Ksatria Templar, lalu diturunkan kepada Freemason, dan sebagainya yang kemudian mengejawantah dalam bentuk konspirasi kelompok Neo-Con di Amerika,Judeo-Christian atau Zionis-Kristen yang berasal dari The Holy Scofield Bible, dan termasuk di alam bawah sadar para pemimpin Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa—Oikumene negeri-negeri Kristen Eropa dan sebagainya, membawa kita pergi jauh ke masa silam, saat Fir’aun masih disembah sebagai Tuhan, saat Nabi Musa a.s. berjuang mendakwahkan ketauhidan pada bangsa Israil yang keras kepala di Mesir kuno.




Sihir Dan Militer

Salah satu peradaban tertua dunia yang hingga kini masih bisa kita saksikan sisa-sisa peninggalannya dengan baik, bahkan walau sudah banyak yang ditemukan, namun rahasia dan misteri yang tersimpan di dalamnya masih saja belum terhampar dengan jelas, adalah sisa peradaban Mesir Kuno di bawah kekuasaan para Fir’aun. Mesir kuno merupakan sebuah sejarah purba yang sarat dengan misteri dan tradisi paganisme, okultisme, di mana ilmu-ilmu sihir dipraktikkan dengan bebas bahkan menjadi salah satu tiang penyangga kekuasaan Fir’aun, selain tentu saja para tentaranya.

Ada begitu banyak catatan para peneliti yang mengupas asal-muasal dan legenda tentang zaman Mesir Kuno ini. Kitab-kita suci dari berbagai agama juga memaparkan secara panjang lebar keberadaan Fir’aun dan kerajaannya. Al-Qur’an memuat secara detil tentang hal ini melalui kisah pertemuan Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Bahkan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an itu, demikian Harun Yahya, kita akan bisa dengan jelas melihat adanya dua titik fokus kekuatan yang ada di Mesir yang menjadi dua tonggak penyangga rezim penguasa yakni sosok Fir’aun dan para pembesar istana yang sering menjadi penasehatnya. Para pembesar istana ini berkumpul di satu dewan yang sering memberi nasehat atau pandangan kepada Fir’aun. Mereka tertdiri dari Dewan Militer dan Dewan Penyihir Tertinggi. Fir’aun pun sering berkonsultasi dan meminta pandangan-pandangan mereka. Bahkan tidak jarang, nasehat dan masukkan dari para penasehatnya—terutama dewan penyihir tertingginya—mengalahkan pendapat pribadinya sendiri. Fir’aun sangat menghormati Dewan Penyihir Tertingginya ini.

Dalam Al-Qur’an dikisahkan tentang pertemuan antara Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun: “Dan Musa berkata: “Hai Fir’aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam, wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku”.

Mendengar permintaan Musa yang begitu berani, Fir’aun menjawab, “Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.” Maka Musa lalu menjatuhkan tongkatnya. Seketika itu juga, tongkat kayu yang dipegang Musa berubah menjadi ular yang besar. Musa kemudian mengeluarkan tangannya dari balik jubahnya dan terlihatlah tangan itu menjadi putih berkilauan dan terlihat oleh orang-orang di sekitarnya.

Menyaksikan hal ini para pemuka kaum Fir’aun dengan sinis berkata kepada Fir’aun, “Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu dari negerimu.” Mendengar hal tersebut, Fir’aun lalu bertanya,”Maka apakah yang kamu anjurkan?.”

Para penasehat Fir’aun itu menjawab,“Beri tangguhlah dia dan saudaranya, serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir), supaya mereka membawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai.”Ini semua bisa disimak di dalam Al-Qur’an surat Al A’raaf ayat 104-112. Fir’aun lalu menerima masukan dari para penasehatnya tersebut.

Dalam kisah ini jelas terlihat peran penting para penasehat Fir’aun. Para penasehat itu sering berkumpul di sisi Fir’aun dan disebut sebagai Dewan Penasehat. Mereka inilah yang berperan besar dalam menasihati Fir’aun, yang menghasutnya untuk terus melawan melawan Musa, dan merekomendasikan kepadanya metode-metode tertentu dalam menghadapi Nabi Musa a.s. Jika diamati dengan seksama, maka kita  akan mendapati bahwa rezim Fir’aun itu ditopang oleh dua kekuatan besar yang solid berada di belakangnya yaitu para tentaranya dan para pendetanya.

Yang pertama, tentara, agaknya tidak perlu dibahas lebih panjang karena peranannya sudah amat jelas dan terang. Sedang yang kedua, peranannya sangat penting namun terkesan diabaikan dan tidak dianggap penting. Padahal, dasar pijakan ideologis Fir’aun dan ‘agamanya’ berasal dari golongan ini. Para pendeta Mesir Kuno merupakan golongan yang disebutkan di dalam Al Quran sebagai ahli-ahli sihir. Mereka merepresentasikan sekte yang mendukung rezim dan memiliki kekuatan khusus serta menguasai pengetahuan rahasia. Dengan otoritas ini mereka mempengaruhi rakyat Mesir, dan mengukuhkan posisi mereka di dalam pemerintahan Fir’aun.

Golongan ini oleh sejarah disebut sebagai “Para Pendeta Amon” dan memusatkan perhatiannya untuk mempraktikkan ilmu sihir dan memimpin sekte pagan mereka. Cabang ilmu yang dipelajari para Pendeta Amon ini meliputi beragam ilmu pengetahuan seperti astronomi, matematika, dan geometri, namun kesemuanya itu ditujukan untuk menggali ilmu-ilmu sihir mereka. Mereka sangat tertutup, mengadakan ritual-ritual sihir dengan sesama mereka, membanggakan diri dan kelompoknya bahwa merekalah yang terhebat dan memiliki pengetahuan khusus tentang sihir, dan menyebut kelompoknya sebagai ordo.

Seiring perjalanan waktu dan perkembangan pemikiran manusia, ilmu pengetahuan pun mengalami kemajuan. Bersamaan itu, jumlah rahasia pun meningkat di dalam pengetahuan pada sistem esoterik. Dalam perkembangannya, ritual-ritual yang bermula dari Mesir ini kemudian menyebar ke wilayah lain dan kemudian diketahui muncul di Cina dan Tibet, kemudian India, Mesopotamia, dan daerah lainnya. Mesir tetap menjadi basis kegiatan ritual esoterik hingga pada abad-abad modern.

Lantas bagaimana sesungguhnya hubungan antara filsafat esoterik para pendeta Mesir Kuno dan Biarawan Sion dan segala derivatnya? Untuk menemukan jawabannya, demikian Harun Yahya, kita harus mencermati berbagai kepercayaan para pendeta Mesir Kuno yang berhubungan dengan asal usul alam semesta dan kehidupan.

|sumber:eramuslum.com
Redaksi – Jumat, 26 Desember 2014 06:43 WIB

NWO, Untold (5)

Dari sejumlah dokumen yang dirahasiakan, banyak peneliti yakin jika Ordo Biarawan Sion ini masih eksis hingga sekarang, sebagai Persaudaraan Rahasia tentunya. Henry Linclon, penulis The Holy Blood Holy Grail berhasil bertemu dengan Gino Sandri, sekretaris pribadi Pierre Plantard yang diduga kuat merupakan Sekretaris Jenderal Biara Sion.

KESAKSIAN GINO SANDRI

Keterangan dari Gino Sandri, yang mengaku sebagai Sekretaris JenderalPriory of Sion dan sekaligus sekretaris pribadi dari Pierre Plantard, agaknya harus dipaparkan juga di sini. Terlepas apakah Gino yang eksentrik dan ‘nakal’ ini—sesuatu yang oleh banyak peneliti dianggap gaya khas dari Biarawan Sion—bisa dipercaya atau tidak. Tidak ada yang mengetahui apakah Gino Sandri yang menghuni rumah yang jauh dari keramaian ini berbohong, memanipulasi informasi, atau berterus-terang soal Biarawan Sion. Atau mungkin semua keterangannya ini ada yang bohong dan ada pula yang benar. Beberapa peneliti kelompok esoteris seperti Lynn Picknett nyatanya telah bertemu dan mewawancarainya. Gino, menurut Picknett, memang ‘nakal’ dan ‘misterius’. Tim pembuat film dokumenter “The Sauniere Da Vinci (2006) juga menemui Sandri dan melakukan wawancara ekslusif dengannya. Keterangan Gino Sandri di bawah ini dikutip dari film dokumenter tersebut yang berisi wawancara cukup panjang dengannya:

“…ketika menginvestigasi cerita tentang Rennes le Château di tahun 1970-an, suatu waktu saya bertemu dengan Perre Plantard.  Dalam waktu yang tidak terlalu lama akhirnya berkawan akrab, dan suatu hari saya diajak untuk bergabung dengan kelompoknya, Biarawan Sion. Dari tahun 1950 hingga 1955, Biarawan Sion tidak menjadi pembahasan umum, walau hal ini tidak berarti keberadaannya tidak dibahas dalam kelompok-kelompok tertentu. Saya ingin menekankan bahwa organisasi Biarawan Sion sama sekali tidak ada kaitannya dengan masalah politik, finansial, atau juga tidak ada kaitannya dengan keinginan mengembalikan Dinasti Merovingian, tidak juga dengan Eropa Barat.

…dalam masanya, Godfroi de Bouillon memang merupakan bagian dari kami walau dia adalah orang yang bermain di layar (maksudnya, Godfroi adalah anggota Biarawan Sion yang sengaja bermain di permukaan, bukan bagian dari yang tertutup atau anggota rahasia,penulis).

…masyarakat baru membahas keberadaan Biarawan Sion setelah tahun 1956, dan juga dikeluarkannya sebuah dokumen yang berisi nama-nama Grand Master-nya. Daftar Grand Master itu benar adanya tapi menurut saya terlalu di besar-besarkan. Kami sekali lagi menyatakan tidak terkiat dengan politik, kami hanya ingin menciptakan perdamaian di dunia yang terdiri dari beragam kelompok dan orang. Setelah kemunculan dokumen itu (The Dossiers Secrets) kami memang menjadi satu organisasi yang terbuka. Tapi sekali lagi ini sekadar organisasi layar yang diketahui orang banyak.

Sesungguhnya cerita tentang ini berawal dari tahun 1901, dari sebuah asosiasi di Annemase yang dipimpin tiga orang. Presiden Asosiasi adalah Andre Bonhomme dan Plantard menjadi sekretaris umumnya. Satu hari, Bonhomme memerintahkan kepada Plantard untuk membuat satu struktur organisasi layar (struktur organisasi yang sengaja ditampilkan ke khalayak luas, penulis) untuk mengetahui reaksi dari masyarakat. Ini seperti umpan. Plantard memang sengaja diumpankan. Sama seperti Rennes le Château dan Sauniére, yang memang kami buat seperti itu.

Rennes le Château memang istimewa dan memenuhi segala syarat yang dimiliki sebuah tempat yang penuh misteri. Ini semacam perangkap. Kita mempunyai semua bumbu penyedap. Gerard de Sede pun, oleh Plantard sendiri, sebelum menulis dua bukunya yang terkenal itu, telah diberi banyak data dan informasi yang antara lain terdiri dari 900 halaman dokumen bertuliskan tangan.

Buku de Sede yang pertama tentang Ksatria Templar dan yang kedua tentang harta karun di Rennes le Château. Bahkan dalam pembagian royalty buku tersebut, Gerard de Sede dan Plantard pun mendapat bagian. De Sede mendapat 35% sedangkan Plantard mendapat 65%-nya. Buku yang kedua, Le Tressoe Maudit, agaknya disengaja dibuat tipis agar murah harganya dan bisa dijangkau banyak orang. Banyak peneliti dan pencari harta karun yang akhirnya berdatangan ke desa ini.

Saya juga katakan bahwa Renes le Château merupakan bagian luar dari Priory of Sion. Kami sendiri sebenarnya tidak tertarik dengan misteri kuburan Yesus, juga tidak ikut-ikutan pada upaya menaikkan kembali monarki Perancis dengan Dinasti merovingiannya. Priory of Sion, dalam bagian lain, juga mutlak tidak berhubungan sama sekali dengan The Da Vinci Code. Itu hanyalah novel biasa. Kode-kode dan sandi-sandi yang ada di dalamnya juga sangat mudah untuk dibaca.Dan novel itu, The Da Vinci Code, juga telah mengatakan bahwa Opus Dei telah melakukan serangkaian pembunuhan . Priory of Sion sama sekali tidak berhubungan dengan semua ini…”

AKAR BERNAMA KABBALAH

Jika ordo Sion didirikan oleh Godfroi de Bouillon pada tahun 1090, sembilan tahun sebelum dirinya memimpin penaklukan Yerusalem dari tangan kaum Muslimin. Lalu ada dokumen lainnya, yang diistilahkan oleh Henry Lincoln cs sebagai ‘Dokumen Biara’ yang malah menyatakan Ordo Sion didirikan tahun 1099, bertepatan dengan jatuhnya Yerusalem ke tangan pasukan salib pimpinan Godfroi de Bouillon. Maka sebelum ordo ini ‘didirikan’, adakah orang-orang dan tokoh-tokoh yang berada dalam kelompok tersebut bersatu dalam ikatan persaudaraan, ritual bersama, atau ikatan-ikatan lain yang benar-benar kuat? Apa yang sesungguhnya melatarbelakangi keberadaan mereka?

Harun Yahya merupakan peneliti Muslim asal Turki yang sangat serius mengkaji masalah ini. Tak banyak peneliti yang berhasil menemukan dan merangkai kepingan fakta sejarah seperti dirinya sehingga menghasilkan mosaik peristiwa masa lalu yang sangat menarik. Salah satu hipotesis Harun Yahya yang bernama asli Adnan Oktar ini tentang apa yang berada di balik Biarawan Sion (juga Templar, Freemason, dan sebagainya) adalah Kabbalah.

Harun Yahya mengutip sebuah buku yang ditulis oleh dua orang Mason bernama Christopher Knight dan Robert Lomas, yang berjudul The Hiram Key. Buku itu mengungkapkan beberapa fakta penting tentang akar Freemasonry. Menurut para penulis ini, jelas sekali bahwa Masonry adalah kesinambungan dari para Templar. Namun, selain itu para penulis juga mengkaji asal usul para Templar.

Menurut tesis kedua penulis tersebut, para Templar ini mengalami perubahan besar secara keyakinan saat mereka berada di Yerusalem. Di tempat asal agama Kristen ini, mereka justru mengadopsi doktrin-doktrin lain yang lebih menjurus pada ajaran paganisme yang melenceng dari iman Kristen yang benar. Para Templar dikatakan menemukan sebuah rahasia yang terpendam dan tersembunyi di dalam Kuil Sulaiman di Yerusalem. Kebetulan, King Baldwin I yang juga menjadi Raja Terusalem memberi mereka sebuah markas di sayap kiri istananya yang dahulunya merupakan wilayah tempat berdirinya Kuil Sulaiman. Para Templar itu juga diketahui telah melakukan upaya penggalian tanah di dalam markas mereka untuk melakukan pencarian tersebut.

Christopher Knight dan Robert Lomas berpendapat bahwa para Templar sesungguhnya telah berbohong kepada Raja Yerusalem bahwa kedatangan mereka ke kota suci itu adalah untuk mengamankan rute para peziarah dari Jaffa ke Yerusalem dari segala gangguan yang mungkin timbul. Namun maksud kedatangan mereka yang sesungguhnya adalah untuk melakukan pencarian terhadap ‘harta karun’ Nabi Sulaiman yang dipercaya berada di bawah reruntuhan Kuil Sulaiman.

Tidak ada bukti bahwa para Templar sendiri ini pernah memberi perlindungan kepada peziarah, tetapi sementara itu kita segera menemukan bahwa terdapat bukti yang meyakinkan bahwa mereka memang melakukan penggalian yang intensif di bawah reruntuhan Kuil Herod…

The Hiram Key bukan satu-satunya yang berpendapat demikian. Peneliti Perancis, Gaethan Delaforge dalam karyanya juga membuat kesimpulan yang sama: Tugas sebenarnya dari sembilan ksatria itu adalah melakukan penyelidikan di daerah tersebut untuk mendapatkan berbagai barang peninggalan dan naskah yang berisi intisari dari tradisi-tradisi rahasia Yahudi dan Mesir kuno.

Pandangan ini bersandar pada temuan seorang peneliti, Charles Wilson, yang melakukan riset arkeologis di lokasi bekas reruntuhan Haikal Sulaiman pada akhir abad ke-19. Setelah mempelajari lokasi bekas markas para Templar, Wilson menemukan seperangkat alat eskavasi dan jejak-jejak upaya penggalian yang pernah dilakukan para Templar di lantai kamar-kamar tidurnya. Perangkat eskavasi ini berasal dari tahun yang sama ketika para Templar masih tinggal di tempat tersebut. Beberapa simbol yang biasa terdapat dalam ordo ini juga dijumpai.

Sekarang, perangkat alat-alat tersebut masih bisa dijumpai di dalam koleksi Robert Brydon yang secara khusus mengumpulkan arsip dan segala sesuatu yang sangat luas tentang keberadaan para Templar.

|sumber:eramuslim.com
Redaksi – Kamis, 4 Rabiul Awwal 1436 H / 25 Desember 2014 04:47 WIB