Tampilkan postingan dengan label SESAT SYIAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SESAT SYIAH. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Februari 2015

Ini Dia Ciri-ciri Rumah dan Masjid Syiah Rafidhoh


CIRI atau tanda yang cukup kentara pada penganut Syiah Rafidhoh adalah kebencian dan cercaan mereka terhadap Abu Bakar Shiddiq dan Umar bin Khatthab. Hal ini didasarkan pada perkataan Imam Ahmad:

Telah berkata Abdullah bin Ahmad: Aku bertanya kepada ayahku,”Siapa Rafidhoh itu?” Dia menjawab mereka adalah yang mencela Abu Bakar dan Umar.” (Abu Bakar bin Ahmad dalam Assunah, 3/492).

Begitu juga dengan rumah Rafidhoh yang memiliki ciri khas. Rafidhah amat mengagungkan pimpinan mereka terutama Khumainy, sehingga foto ini akan terpampang di rumah mereka. Selain itu, foto ahlul bait (keluarga Nabi SAW) yaitu Ali bin Abi Thalib, Fatimah binti Muhammad, Hasan, Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Mereka tidak akan memajang foto yang menggambarkan Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah, apalagi foto Muawiyah, kecuali mereka pampang sebagai upaya untuk mencela para sahabat tersebut.

Masjid Rafidhoh juga memiliki beberapa ciri di antaranya:

1. Sebagian dinding di samping mihrab biasa ditulis ayat kursi.

2. Bagian samping diisi dengan Asma’ Al Husna.

3. Sebagian lagi surat al-Baqarah dengan lengkap.

4. Karpetnya penuh dengan bunga atau gambar masjid, dsb.

5. Bahkan sebagian masjid diisi dengan gambar imam-imam mereka, seperti Ali, Fatimah, Husain, Hasan dan tak ketinggalan gamabar imam sesat mereka, Khumainy.

[Sumber: Bahaya Syiah Rofidhoh bagi Dunia Islam/Karya: Ust. Abu Hazim Muhsin bin Muhammad Bashori/Penerbit: Maktabah Daarul Atsar]

Senin, 03 November 2014

Syiah, Di Balik Jatuhnya Kota Baghdad Di Masa Lalu

PADA tahun 656 H, Hulagu Khan, Raja Tatar berhasil menguasai kota Baghdad yang saat itu menjadi pusat peradaban Islam di bawah kekuasaan Bani Abbasiyyah. Keberhasilan invansi Tatar ini tidak lepas dari peran dua orang Syi’ah. Yang pertama adalah seorang menteri pengkhianat khalifah Muktashim yang bernama Mu’yyiduddin Muhammad Ibnul Alqamy. Dan yang kedua adalah seorang ahli nujum Nashirudin Ath Thusi penasehat Hulagu.

Pada akhir kepemimpinan khalifah Mustanshir, jumlah pasukan Bani Abbasiyyah mencapai seratus ribu pasukan. Sepeninggal Mustanshir dan tampuk kepemimpinan dipegang oleh Muktashim, Ibnul Alqamy membuat usulan-usulan kepada khalifah untuk mengurangi jumlah pasukan dengan alasan untuk menghemat biaya. Hal itu pun diikuti oleh khalifah. Padahal itu merupakan taktik untuk melemahkan kekuatan pasukan. Hingga akhirnya jumlah pasukan hanya sepuluh ribu saja.

Pada saat yang sama, Ibnul Alqami menjalin hubungan gelap dengan Hulagu. Ia sering menulis surat kepada Hulagu dan memberinya motivasi untuk mengusai Baghdad serta berjanji akan membantunya sambil menggambarkan kondisi pertahanan Bagdad ketika itu yang semakin melemah. Itu semua ia lakukan demi memberantas sunnah, menampakkan bid’ah rafidhah dan mengganti kekuasaan dari Bani Abbasiyyah kepada Alawiyyah.

Pasukan Hulagu pun kemudian bergerak menuju Bagdad. Pasukan Khalifah baru menyadari bahwa Tatar telah bergerak masuk. Upaya penghadangan Tatar yang dilakukan oleh khalifah gagal hingga akhirnya Tatar berhasil menguasai sebagian wilayah Bagdad. Dalam kondisi itu, Ibnul Alqami mendatangi Hulagu dan membuat perencanaan dengannya kemudian kembali kepada khalifah Muktashim dan mengusulkan kepadanya untuk melakukan perdamaian seraya berkata bahwa Hulagu akan tetap memberinya kekuasaan sebagaimana yang Hulagu lakukan terhadap penguasa Romawi. Ia pun berkeinginan menikahkan putrinya dengan anak laki-laki kahlifah yang bernama Abu Bakar. Ia terus mengusulkan agar penawaran itu disetujui oleh khalifah. Maka khalifah pun berangkat dengan membawa para pembesar pemerintahannya dalam jumlah yang sangat banyak (dikatakan sekitar 1200 orang)

Khalifah menempatkan rombongannya di sebuah tenda. Lalu menteri Ibnul Alqami mengundang para ahli fikih dan tokoh untuk menyaksiakan akad pernikahan. Maka berkumpulah para tokoh dan guru Bagdad yang diantaranya adalah Muhyiddin Ibnul Jauzi beserta anak-anaknya untuk mendatangi Hulagu. Sesampainya di tempat Tatar, pasukan Tatar malah membunuhi mereka semua. Begitulah setiap kelompok dari rombongan khalifah datang dan dibantai habis semuanya. Tidak cukup sampai disitu, pembantaian berlanjut kepada seluruh penduduk Bagdad. Tidak ada yang tersisa dari penduduk kota Bagdad kecuali yang bersembunyi. Hulagu juga membunuh khalifah dengan cara mencekiknya atas nasehat Ibnul Alqami.

Pembantaian Tatar terhadap penduduk Bagdad berlangsung selama empat puluh hari. Satu juta korban lebih tewas dalam pambantaian ini. Kota Bagdad hancur berdarah-darah, rumah-rumah porak-poranda, buku-buku peninggalan para ulama dibakar habis dan Bagdad pun jatuh kepada penguasa kafir Hulagu Khan.

Selain peran Ibnul Alqami, peristiwa ini juga tidak lepas dari peran seorang Syi’ah lainnya bernama Nashirudin At Thushi, penasehat Hulagu yang dari jauh-jauh hari telah mempengaruhi Hulagu untuk menguasai kota Bagdad. [Lihat Al Bidayah wa Al Nihayah, vol. 13, hal. 192, 234 – 237, Al-Nujuum Al Zaahirah fii Muluuk Mishr wa Al Qahirah, vol. 2, hal. 259 – 260]. [sumber: akhirzaman]


|Sumber : islampos.com